Rabu, 17 Mar 2021 18:27 WIB

BPOM: Vaksin AstraZeneca Tak Direkomendasikan Selama Proses Kajian

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Viostin DS dan Enzyplex Ditarik Dari Peredaran

Kepala Bada Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito melakukan jumpa pers terkait perkembangan kasus pelanggaran produk Viostin DS dan Enzyplex yang mengandung DNA babi di Jakarta, Senin (5/6/2018). Dalam hasil penyelidikan BPOM, kedua produk tersebut positif mengandung DNA babi. Atas temuan ini kedua produk tersebut ditarik dari peredaran. Grandyos Zafna/detikcom Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Sebanyak 1,1 juta dosis vaksin AstraZeneca ditunda pendistribusiannya usai muncul laporan kasus pembekuan darah di Eropa. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut ada 15 negara yang melakukan penangguhan vaksin AstraZeneca.

Sebagai langkah kehati-hatian, BPOM RI ikut menunda penggunaan vaksin AstraZeneca selama hasil investigasi kasus pembekuan darah belum terungkap. Meski begitu, dipastikan batch vaksin AstraZeneca yang diterima Indonesia berbeda dengan batch yang diduga memicu pembekuan darah pasca divaksin.

"Walaupun vaksin COVID-19 AstraZeneca telah mendapatkan Emergency Use Listing (EUL) dari WHO untuk vaksinasi COVID-19, Badan POM tetap melakukan pengkajian lengkap aspek khasiat dan keamanan bersama Komite Nasional Penilai Obat (KOMNAS PO) serta melakukan kajian aspek mutu yang komprehensif," sebut BPOM dalam rilis yang diterima detikcom Rabu (17/3/2021).

Lebih lanjut, BPOM menjelaskan hasil uji klinis pada lebih dari 20 ribu relawan di Inggris, Brasil, Afrika Selatan terkait vaksin AstraZeneca, tak didapatkan efek samping serius. Laporan efek samping yang tercatat hanya reaksi lokal saja.

"Secara umum manfaat vaksin COVID-19 AstraZeneca lebih besar dari risikonya," tegas BPOM.

Hingga kini, BPOM masih terus mengkaji laporan kasus pembekuan darah yang terjadi di Austria. Selama pengkajian masih terus berlangsung, vaksin AstraZeneca tak bisa digunakan.

"Selama masih dalam proses kajian, vaksin Covid-19 AstraZeneca direkomendasikan tidak digunakan," pungkasnya.

Simak poin-poin penjelasan BPOM dalam rilis resmi yang diterima detikcom di halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2