Rabu, 17 Mar 2021 22:13 WIB

4 Fakta GeNose, Alat Skrining Corona Tanpa Colok Hidung Buatan UGM

Ardela Nabila - detikHealth
PT KAI (Persero) melakukan uji coba penggunakan GeNose untuk mendeteksi COVID-19 di Stasiun Senen, Jakarta. Calon penumpang tampak antusias. Tes GeNose (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Alat skrining COVID-19, GeNose, diketahui sudah memiliki izin edar dari Kementerian Kesehatan sebagai salah satu alat untuk mendeteksi virus Corona. Hanya saja, sebelumnya terdapat kontroversi seputar risetnya.

Salah satu peneliti alat besutan para ahli asal Universitas Gadjah Mada (UGM) ini pun sempat mengatakan bahwa GeNose tak bisa digunakan di sembarang tempat. Menurutnya, GeNose hanya dapat digunakan pada ruangan dengan aliran udara baik.

Di samping kontroversinya yang sempat ramai diperbincangkan dan pernyataan dari salah satu penelitinya, tes yang satu ini punya kelebihan dibanding tes antigen dan PCR (polymerase chain reaction), yaitu tidak pakai tusuk-tusuk hidung alias swab.

Berikut 4 fakta GeNose, alat skrining Corona tanpa swab nasofaring.

1. Dikembangkan UGM

Berbeda dengan alat untuk mendeteksi COVID-19 yang lebih dulu digunakan, GeNose mengusung teknologi artificial intelligence (AI) yang dikembangkan di Universitas Gadjah Mada (UGM). Penggunaan teknologi AI tersebut digunakan untuk mendeteksi partikel atau VOC (Volatile Organic Compound) yang dikeluarkan oleh pasien terinfeksi COVID-19. Menurut para ahli yang terlibat dalam pengembangannya, tes Corona ini memiliki sensitivitas sebesar 92 persen.

2. Izin Kementerian Kesehatan (Kemenkes)

Kementerian Kesehatan telah memberikan izin edar alat deteksi COVID-19 yang satu ini. Namun, perlu diketahui bahwa alat ini hanya digunakan sebagai alat skrining untuk mendeteksi partikel atau senyawa yang memang hanya didapat pada orang yang positif terpapar COVID-19, bukan sebagai alat untuk mendiagnosis seseorang terinfeksi virus Corona.

"Jadi yang dideteksi di sini bukan virusnya, bukan virus Corona COVID-19. Tapi, yang dideteksi di sini adalah partikel atau senyawa yang memang secara spesifik akan berbeda jika terjadi atau dikeluarkan oleh orang yang mengidap COVID-19," ujar Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro, Senin (28/12/2020).

Alat pendeteksi COVID-19 GeNose telah dirakit sejak Februari kemarin. Yuk lihat proses perakitannya di Teaching Factory SMK-SMTI Yogyakarta.Perakitan alat GeNose. Foto: PIUS ERLANGGA

3. Dipakai sebagai syarat perjalanan

Satuan Tugas Penanganan COVID-19 telah mengizinkan GeNose sebagai syarat perjalanan kereta api dan luar kawasan satu algomerasi. Hal ini sebagaimana tertuang dalam SE No 5 Tahun 2021 yang mengatur protokol perjalanan dari dan ke Pulau Jawa serta di dalam Pulau Jawa (antarprovinsi/kabupaten/kota). Alat skrining untuk mendeteksi virus Corona tersebut pun telah terpasang di sejumlah stasiun dan terminal sejak 5 Februari lalu.

4. Pembacaan hasil

Pengambilan sampel dari GeNose berbeda dari tes Corona lainnya. Pasalnya, pengambilan sampel melalui tes ini dilakukan dengan mengambil sampel napas yang dikeluarkan melalui mulut ke dalam sebuah kantung. Dengan demikian, pembacaan hasil alat skrining Corona tanpa perlu mencolok hidung ini pun turut berbeda dari tes antigen maupun PCR (polymerase chain reaction).

Hasil pemeriksaan setelah pengambilan sampel nantinya akan ditunjukkan pada layar monitor dalam bentuk kurva. Di bawah kurva tersebut, terdapat keterangan yang menyatakan hasil tes berupa prediksi POSITIVE atau NEGATIVE.

Selain itu, terdapat pula dua angka desimal untuk menunjukkan seberapa kuat prediksi yang dihasilkan usai pemeriksaan. Menurut GM Divisi Kesehatan di Dompet Dhuafa, dr Yeni Purnamasari, MKM, jika hasil prediksinya kuat, maka angka desimal tersebut akan berada di angka 0,6 atau 60 persen, sementara jika di bawah itu maka hasilnya lemah.



Simak Video "Syarat Tes GeNose Saat Sedang Berpuasa"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)