Jumat, 19 Mar 2021 09:30 WIB

Round Up

Mulai Terkuak, Ini Bocoran Investigasi WHO Soal Asal-usul Virus Corona

Ayunda Septiani - detikHealth
Tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mulai menyelidiki asal-usul COVID-19 di China. Mereka menyisir laboratorium, pasar, dan rumah sakit di Wuhan. Foto ilustrasi. (Foto ilustrasi: AP Photo)
Jakarta -

Setelah melakukan penyelidikan selama berbulan-bulan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akhirnya menemukan jawaban dari mana pandemi virus Corona berasal. Asal usul virus Corona belum diumumkan secara lengkap, tetapi sedikit bocorannya telah disinggung.

Berdasarkan hasil investigasinya, WHO menemukan bahwa peternakan satwa liar di China menjadi kemungkinan besar sumber pandemi COVID-19.

Dikutip dari laman Live Science, Peter Daszak, seorang ahli ekologi penyakit di tim WHO yang melakukan perjalanan ke China, menjelaskan bahwa peternakan satwa liar ini, banyak di antaranya terletak di atau sekitar provinsi Yunnan di China selatan, yang kemungkinan besar memasok hewan ke pedagang di Pasar Grosir Makanan Laut Huanan di Wuhan.

Seperti yang diketahui, Wuhan merupakan tempat kasus awal COVID-19 ditemukan pada tahun lalu. Beberapa dari hewan liar tersebut bisa saja tertular SARS-CoV-2 dari kelelawar di daerah tersebut.

WHO diperkirakan akan merilis temuannya tersebut dalam laporan dalam beberapa minggu mendatang.

Pada bulan Januari, tim ahli WHO melakukan perjalanan ke China untuk menyelidiki bagaimana pandemi Corona mematikan, dan pertama kali dimulai.

Banyak teori konspirasi telah menyebar tentang asal usul virus Corona, termasuk bahwa virus itu lolos dari laboratorium Wuhan. Namun, pada bulan lalu penyelidik WHO menepis teori konspirasi tersebut.

Konsensus umum di antara para ilmuwan adalah bahwa virus Corona beredar di kelelawar dan melompat ke manusia, kemungkinan melalui spesies perantara. Itulah tepatnya yang ditemukan oleh penyelidikan WHO.

"Virus itu kemungkinan ditularkan dari kelelawar di China selatan ke hewan di peternakan satwa liar, dan kemudian ke manusia," jelas Daszak kepada NPR.

Daszak menjelaskan, peternakan satwa liar adalah bagian dari proyek yang telah dipromosikan pemerintah China selama 20 tahun untuk mengangkat penduduk pedesaan keluar dari kemiskinan dan menutup kesenjangan pedesaan-perkotaan.

"Mereka mengambil hewan eksotis, seperti musang, landak, trenggiling, anjing rakun dan tikus bambu, dan mereka membiakkannya di penangkaran," kata Daszak.

Tetapi pada Februari 2020 lalu, China menutup peternakan tersebut karena pemerintah China mengira bahwa itu adalah bagian dari jalur transmisi dari kelelawar ke manusia.

"Pemerintah mengirimkan instruksi kepada peternak tentang bagaimana mengubur, membunuh atau membakar hewan dengan cara yang tidak menyebarkan penyakit," kata Daszak.

Dikutip NPR, banyak dari peternakan ini membiakkan hewan yang dapat membawa virus Corona, termasuk musang, kucing, dan trenggiling. Sebagian besar berlokasi di atau dekat provinsi Yunnan di China selatan, tempat para ilmuwan sebelumnya menemukan virus kelelawar yang 96 persen mirip dengan SARS-CoV-2.

Sejauh ini, WHO masih belum mengetahui hewan apa yang membawa virus dari kelelawar ke manusia. "Saya pikir SARS-CoV-2 pertama kali menyerang orang-orang di China Selatan. Tampaknya seperti itu," kata Daszak kepada NPR.

WHO juga menemukan bukti bahwa peternakan satwa liar ini memasok pedagang di Pasar Grosir Makanan Laut Huanan.

"China menutup jalur itu karena suatu alasan. Yakni, mereka mungkin berpikir bahwa ini adalah jalur penularan yang paling mungkin, yang juga akan disampaikan oleh laporan WHO," pungkas Daszak.



Simak Video "Permintaan AS ke WHO: Tim Riset Asal Usul Corona Balik Lagi ke Wuhan"
[Gambas:Video 20detik]
(ayd/up)