Sabtu, 20 Mar 2021 20:00 WIB

Orang yang Jalannya Lambat Bisa Lebih Berisiko Meninggal karena COVID-19

Firdaus Anwar - detikHealth
Warga tampak berkerumun saat berolahraga di kawasan Kanal Banjir Timur, Jakarta Timur, Minggu (7/3). Padahal kasus positif COVID-19 di DKI masih tinggi. Orang yang jalannya lambat disebut lebih berisiko meninggal karena COVID-19. (Foto ilustrasi: Rengga Sencaya)
Jakarta -

Studi terbaru yang dilakukan oleh para peneliti Inggris menemukan bahwa orang dengan kecepatan berjalan yang lambat bisa hampir empat kali lebih berisiko meninggal karena COVID-19. Hal ini diduga berkaitan dengan kondisi kebugaran fisik.

Pemimpin studi Profesor Tom Yates dari Leicester Biomedical Research Centre mengetahuinya dengan menganalisa data sekitar 400.000 orang berusia paruh baya. Orang-orang dibagi menjadi tiga kelompok yaitu yang jalannya lambat di bawah 4,8 km per jam, menengah atau sedang yaitu 4,8-6,4 km per jam, dan cepat di atas 6,4 km per jam.

Hasilnya ditemukan orang di kelompok yang berjalan lambat 3,75 kali lebih berisiko meninggal dunia karena COVID-19 dibanding mereka yang jalannya cepat. Orang di kelompok jalan lambat juga disebut 2,5 kali lebih mungkin mengalami gejala parah bila terinfeksi.

Pada orang dengan obesitas, risikonya terhadap COVID-19 hampir sama ditiap kelompok kecepatan jalan.

"Kita sudah tahu bahwa kerapuhan dan obesitas menjadi faktor kunci penting terhadap keparahan kasus COVID-19," kata Prof Tom, seperti dikutip dari BBC, Sabtu (20/3/2021).

"Ini adalah studi pertama yang menunjukkan orang dengan jalan lambat bisa lebih berisiko terhadap COVID-19 parah, terlepas dari berat badan," lanjutnya.



Simak Video "Hanya Mengingatkan! Hati-hati dengan Varian Mu"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)