Minggu, 21 Mar 2021 20:41 WIB

Pakar IDI: Waspada, Corona B117 64 Persen Lebih Berisiko Fatal

Ayunda Septiani - detikHealth
Virus Corona terbaru atau Sars-Cov-2 yang menjadi penyebab COVID-19 memang berbahaya. Tapi tampilannya di bawah mikroskop bisa sangat bertolak belakang. Foto ilustrasi. (Foto ilustrasi: NIAID)
Jakarta -

Ketua Satgas Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban menyebut soal kemungkinan orang yang terinfeksi varian baru virus Corona meninggal dunia lebih tinggi.

Hal ini disampaikan melalui unggahan di akun media sosialnya pada Jumat (19/3/2021). Berdasarkan studi terbaru terkait virus Corona varian B117 yang awalnya dinamakan VOC N501Y.V1.

"Studi terbaru menyatakan orang yang terinfeksi varian ini didapati 64 persen lebih mungkin meninggal ketimbang orang yang terinfeksi dengan varian yang beredar sebelumnya," tulis Prof Zubairi.

Ia melanjutkan, kemunculan varian B117 tersebut berbarengan dengan tingginya okupansi di rumah sakit-rumah sakit. Sejalan dengan tingginya okupansi di rumah sakit, angka kematian pun juga mengalami peningkatan.

"Kemunculan varian ini berbarengan dengan tingginya okupansi di rumah sakit-rumah sakit dan diketahui meningkatkan angka kematian," lanjutnya.

Meski begitu, Prof Zubairi juga menyampaikan bahwa vaksin COVID-19 Pfizer terbukti efektif melawan varian baru virus Corona COVID-19.

Pada studi sebelumnya, disampaikan bahwa virus Corona varian B117 memang lebih mudah menular. Tetapi, varian virus Corona yang telah tersebar ke hampir 100 negara tersebut tidak lebih mematikan.

"Dus. Studi sebelumnya menyatakan B.1.1.7 ini lebih mudah menular tapi tidak mematikan dan telah tersebar ke hampir 100 negara," katanya.

Prof Zubairi berharap studi yang dirilis British Medical Journal (Jurnal Kedokteran Britania) tersebut dapat menjadi perhatian seluruh masyarakat.



Simak Video "Ilmuwan Ungkap Varian Virus Corona yang Berbeda di Nigeria"
[Gambas:Video 20detik]
(ayd/naf)