Rabu, 24 Mar 2021 12:11 WIB

Studi: 1 dari 3 Mantan Pasien Corona Mengalami Efek Jangka Panjang

Ayunda Septiani - detikHealth
Kasus positif COVID-19 di ibu kota disebut kini alami perlambatan yang signifikan. Hal itu beri semangat baru bahwa Indonesia dapat bangkit lawan Corona. Foto ilustrasi. (Foto ilustrasi: Antara Foto)
Jakarta -

Gejala jangka panjang COVID-19 bisa menyerang pasien yang sudah sembuh. Sebuah penelitian baru menunjukkan setidaknya 1 dari 3 mantan pasien COVID-19 bisa mengalami kondisi tersebut.

Dikutip dari laman Helthshots, penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine pada hari Senin (22/3/2021).

Beberapa gejala jangka panjang yang sering dirasakan adalah kelelahan, kecemasan, sesak napas, depresi, dan Gangguan Stres Pasca-Trauma (PTSD).

"Mengingat ada jutaan orang yang terinfeksi SARS-CoV-2 secara global, efek jangka panjang pada aspek kesehatan fisik, kognitif, dan mental masih perlu diperhatikan," jelas penulis utama Kartik Sehgal, seorang ahli onkologi medis di Boston's Dana-Farber Cancer Institute.

Sementara pada kasus COVID-19 yang parah menginfeksi paru-paru pasien, penelitian telah menunjukkan bahwa virus juga menyerang organ lain yang menyebabkan berbagai komplikasi termasuk penyakit kardiovaskular dan peradangan kronis.

Peneliti telah meninjau sembilan studi jangka panjang dari Eropa, Amerika Serikat, dan China yang menemukan bahwa beberapa pasien melaporkan adanya berbagai masalah organ berbulan-bulan setelah mereka keluar dari rumah sakit.

Secara keseluruhan, mereka menemukan bahwa 30 persen pasien yang diteliti melaporkan setidaknya satu gejala, seperti kelelahan, sesak napas, dan kondisi kejiwaan.

Selain itu, satu studi di Italia terhadap 143 pasien menemukan bahwa hampir 90 persen melaporkan gejala yang menetap hingga 60 hari setelah mereka pulih dari infeksi COVID-19.

Gejala yang paling umum adalah kelelahan yang mencapai 53,1 persen, sesak napas 43,4 persen, nyeri sendi 27,3 persen, dan nyeri dada 21,7 persen. Secara total, lebih dari separuh pasien mengalami beberapa gejala dua bulan setelah meninggalkan rumah sakit.

"Penting untuk tidak melupakan efek kesehatan mental dari COVID-19 sembari menjaga gejala fisik," tambah Sehgal, yang juga instruktur di Harvard Medical School.

Para peneliti menyerukan penyelidikan lebih lanjut terhadap COVID-19 dan pendirian klinik yang lebih luas untuk merawat orang-orang dengan gejala yang menetap.

"Meskipun mencegah kematian tetap menjadi tujuan terpenting, penting juga untuk mengenali morbiditas multi-organ COVID-19," ujar Sehgal.

"Kebutuhan medis pasien dengan COVID-19 tidak berhenti pada saat keluar dari rumah sakit dan mereka juga tidak berhenti setelah tiga hingga empat minggu," pungkasnya.



Simak Video "Jepang Minta Penyelidikan Tambahan soal Asal Virus Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(ayd/fds)