Kamis, 25 Mar 2021 10:48 WIB

Penyebab Perempuan Lebih Banyak Alami Efek Samping Vaksinasi COVID-19

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Petugas medis menyuntikan vaksin COVID-19 kepada sejumlah pegawai pusat perbelanjaan di Depok Town Square, Depok, Jawa Barat, Selasa (23/3/2021). Dinas Kesehatan Kota Depok mulai melakukan vaksinasi COVID-19 dosis pertama kepada 1.500 orang pegawai pusat perbelanjaan. Vaksinasi COVID-19. (Foto ilustrasi: Dedy Istanto)
Jakarta -

Vaksinasi COVID-19 telah dilakukan di berbagai penjuru negeri. Beberapa melaporkan tidak mengalami efek samping apapun usai divaksin sementara lainnya mengeluhkan beberapa gejala.

Adapun efek samping yang sering dilaporkan termasuk gejala ringan seperti nyeri lengan, nyeri otot, kemerahan di sekitar tempat suntikan, dan demam ringan. Beberapa orang melaporkan merasakan lebih banyak efek samping setelah menerima dosis kedua.

Namun ada satu kelompok yang disebut lebih rentan mengalamki efek samping pasca vaksinasi. Dalam studi yang dilakukan oleh Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC), mereka menemukan perempuan lebih banyak mengalami efek samping usai menerima vaksin COVID-19.

Menurut studi First Month of Covid-19 Vaccine Safety Monitoring yang menganalisis 13.794.904 orang Amerika pertama yang menerima vaksin, mereka mencatat 79 persen wanita melaporkan efek samping cukup serius usai mendapatkan vaksin Pfizer atau Moderna.

Menanggapi, ahli penyakit menular di Stanford Health Care, Palo Alto, California, mengatakan reaksi anafilaksis dilaporkan banyak terjadi pada wanita.

"Kami tahu bahwa anafilaksis, reaksi yang jarang terjadi, nampaknya secara ekslusif terjadi pada wanita," katanya dikutip dari Health.

Liu mengatakan, respons imunologis pada wanita yang terkena COVID-19 berbeda dengan respons pada pria yang terinfeksi virus tersebut, yang dapat menjelaskan perbedaan respons terhadap vaksinasi.

"Pria tampaknya memiliki gejala yang lebih buruk (dengan COVID-19) ... Apakah wanita menghasilkan lebih banyak tanggapan kekebalan yang kuat? Mungkin itu menjelaskan beberapa perbedaan dalam efek samping," ucap Liu.

Para ahli menduga bahwa pada wanita, terutama wanita pramenopause, kadar estrogen membantu mengaktifkan respons kekebalan terhadap penyakit dan pada vaksin. Sebaliknya, pria memiliki lebih banyak testosteron, hormon yang sepertinya bisa meredam atau memperlambat respons vaksin.

Sederhananya, wanita pada umumnya memiliki respons yang lebih kuat terhadap vaksin karena tubuh mereka lebih cepat dalam hal mengaktifkan apa yang 'diperkenalkan' oleh vaksin ke dalam tubuh.



Simak Video "Vaksinasi Covid-19 di Subang Digeber, Capaian Masih 27,6%"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/fds)