Jumat, 26 Mar 2021 11:32 WIB

Satgas Ungkap 4 Pemicu Utama Kematian Pasien COVID-19 di RI, Ini Daftarnya

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
TPU Srengseng Sawah di Jagakarsa, Jakarta Selatan, kini dipakai untuk pemakaman jenazah pasien COVID-19. Hal ini menyusul makam di dua TPU Pondok Ranggon dan TPU Tegal Alur untuk COVID-19 di blok muslim dinyatakan penuh. Foto: DEDYISTANTO
Jakarta -

Angka kematian akibat virus Corona di Indonesia masih cukup tinggi. Dari data yang dihimpun Kementerian Kesehatan, per Kamis (25/3/2021), tercatat 40.081 pasien Corona yang meninggal di Indonesia.

Jumlah kematian pasien Corona di Indonesia bahkan menempati posisi ke-3 se Asia. Ada beberapa faktor pemicu kematian pasien Corona yang ditemukan Tim Pakar Satgas Penanganan COVID-19.

Satgas COVID-19 telah melakukan analisis kematian pasien COVID-19 berdasarkan usia dan riwayat komorbid serta jenis kelamin. Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan di Indonesia, kematian akibat Corona lebih banyak dialami oleh laki-laki.

"Dari data yang kita analisis terlihat bahwa laki-laki rupanya lebih berisiko 1,4 kali untuk meninggal saat terinfeksi dibandingkan perempuan," tuturnya dalam webinar yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Kamis (25/3/2021).

Wiku tidak menjelaskan lebih lanjut terkait alasan laki-laki lebih berisiko meninggal akibat Corona. Selain itu dalam analisis yang dipublikasikan pada jurnal ilmiah internasional PLOS One, ia juga memaparkan faktor komorbid yang menjadi pemicu kematian.

Penyakit komorbid pemicu kematian

Ada 4 penyakit komorbid terbesar yang dialami pasien COVID-19 yang meninggal dunia yakni:

1. Penyakit ginjal
2. Penyakit jantung
3. Diabetes
4. Hipertensi.

Diterangkan oleh Wiku, pasien Corona dengan bawaan penyakit ginjal memiliki risiko kematian 13,7 kali lebih besar terhadap kematian dibandingkan dengan pasien yang tidak memiliki penyakit ginjal.

Kemudian pada komorbid penyakit jantung, pasien memiliki risiko 9 kali lebih besar terhadap kematian dibandingkan yang tidak memiliki penyakit jantung.

Mereka yang mengalami diabetes berisiko 8,3 kali lebih tinggi untuk meninggal dunia dibandingkan dengan yang tidak memiliki penyakit tersebut.

Sementar itu pengidap hipertensi memiliki risiko kematian 6 kali lebih besar dibandingkan dengan yang tidak memilikinya.

Makin banyak komorbid yang diidap, maka semakin tinggi pula risiko kematiannya.

"Maka dari itu sejak pertama kalau kita tahu kondisi seperti ini, kita harus melindungi orang-orang yang memiliki komorbid termasuk dalam upaya vaksinasi," ucapnya.

Faktor usia

Dari hasil penelitian yang melihat aspek usia terungkap bahwa semakin tinggi usia, semakin tinggi pula risiko kematian akibat Corona. Pasien yang berada di usia rentang 31-45 tahun berisiko masing-masing sebesar 2,4 kali lipat pada kematian.

Pasien yang berada di rentang usia 46-59 tahun, berisiko 8,5 kali lipat pada kematian. Pasien berusia di atas 60 tahun atau lansia memiliki risiko sebesar 19,5 kali lipat pada kematian.

"Kalau kita lihat angka kematiannya masih tinggi daripada rata-rata angka di dunia. Kalau ketahanan masyarakat kita tinggi, maka potensi meninggalnya lebih kecil," pungkasnya.



Simak Video "Benarkah Pasien yang Sembuh Jadi Kebal Corona? Ini Kata Dokter"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)