Kamis, 01 Apr 2021 19:03 WIB

Profil Psikologis yang Seperti Ini Bisa Jadi Pemicu Aksi Terorisme

Vidya Pinandhita - detikHealth
Personel kepolisian dengan rompi anti peluru dan senjata laras panjang berjaga di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (31/3/2021). ANTARA FOTO/M Adimaja/wpa/wsj. Profil psikologis disebut sebagai pemicu aksi terorisme. Foto: ANTARA FOTO/M Adimaja
Jakarta -

Kasus terorisme disebut terkait erat dengan kondisi psikis. Demikian juga kasus penembakan di Mabes Polri, Jakarta yang dilakukan oleh seorang wanita kelahiran 1995, Zakiah Aini. Terlepas dari motif di balik aksinya, psikolog menyebut, aksi penembakan tersebut berhubungan erat dengan faktor psikis.

"Yang paling penting sebenarnya justru bukan usia, tetapi profil psikologis yang khas yang membuat mereka tergerak untuk melakukan aksi terorisme," terang psikolog klinis forensik Dra. A. Kasandra Putranto pada detikcom, Kamis (1/4/2021).

Ia menjelaskan, terorisme adalah kejahatan yang disebabkan masalah pendidikan sejak dini dengan penanaman radikalisme dan ekstrimisme. Masuknya nilai-nilai tersebut ke keyakinan pelaku terorisme tidak terlepas dari kondisi psikologis seseorang.

"Sebagian besar justru disebabkan karena profil psikologis yang khas, antara lain karena memiliki pikiran yang kaku dan terpaku pada ide tertentu, masalah dalam pemahaman dan pengambilan keputusan, menutup diri, meyakini pemikirannya sebagai kebenaran yang absolut," imbuhnya.

Ia menambahkan, sebagian besar motif aksi terorisme adalah masalah dalam keluarga. Baik berupa penanaman nilai radikal sejak dini, atau justru tidak adanya pendidikan yang mencukupi karena konflik keluarga.

Seringkali, keterbatasan pendidikan tersebut mengganggu kapasitas perkembangan kepribadian yang berimbas pada daya pikir, ketidakstabilan emosi, hingga gangguan keterampilan sosial.

Lebih lagi, kini gangguan psikis kerap diperburuk oleh paparan media sosial.

"Memang penting untuk mengetahui profil up psikologi seseorang untuk bisa memahami mengapa individu mengambil keputusan untuk membiarkan adanya pemikiran radikal, perasaan radikal bahkan sampai perbuatan radikal yang berujung kepada aksi terorisme" ujarnya.



Simak Video "Tahapan Psikologis Agar Adaptasi Kebiasaan Baru Jadi Perilaku Tetap"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)