Sabtu, 03 Apr 2021 13:09 WIB

Kisah Sara Djojohadikusumo saat Tahu Anaknya Down Syndrome, Sempat Nangis 2 Jam

Ardela Nabila - detikHealth
Sara Djojohadikusumo dan keluarga Foto: Sara Djojohadikusumo
Jakarta -

Tidak banyak yang tahu, politikus Rahayu Saraswati Dhirakanya Djojohadikusumo alias Sara Djojohadikusumo ternyata memiliki anak dengan kondisi down syndrome.

Wanita yang akrab disapa Sara itu telah mengetahui kondisi sang buah hati mengidap kondisi tersebut sejak kandungannya berusia 14 minggu. Sara mengetahui terdapat kelainan pada kromosom anaknya setelah melakukan uji darah berupa Non Invansive Prenatal Testing (NIPT).

"Dokter memanggil kami, dan biasa ya kalo dipanggil sama dokter tentu kita deg-degan. Dari situ dikasih tahu kalau di baby ini ada down syndrome," kata Sara, dikutip dari HaiBunda.

Setelah mendengar kabar tersebut, Sara mengaku bahwa dirinya menangis selama dua jam usai mengunjungi dokter.

"Saat kami ke dokter itu pagi, siangnya saya dan suami lanjut makan di sebuah mal. Di situ selama dua jam saya nggak berhenti nangis," lanjutnya.

Disebutkan, Sara menangis bukan karena mengetahui kondisi sang anak yang berkebutuhan khusus, tetapi karena sedih memikirkan apakah dunia akan menerimanya? Bagaimana dunia akan memperlakukannya kelak?

Sementara itu, suami Sara, Harwendro Aditya Dewanto, memberikan reaksi yang justru berbeda. Sara mengatakan, suaminya mengatakan satu kalimat yang membuatnya semakin cinta dan yakin dengan suaminya.

"Suami saya bilang, selama anak ini mau berjuang, kita akan berjuang bersama dia. Maka itu nama anak kami Wira yang artinya 'Warrior' atau pejuang," jelas Sara.

Lebih lanjut, Sara menceritakan perjuangannya saat pertama kali dirinya mengabarkan keluarga bahwa ia tengah mengandung anak berkebutuhan khusus. Untungnya, keluarga, termasuk orang tua dan mertuanya, menerima dengan baik.

"Saat kami sudah menerima (kondisi anak down syndrome), kemudian memutuskan untuk menyampaikan pada orang tua dan inner circle lah, ya. Untungnya mereka semua menerima," pungkasnya.

"Karena saya menggunakan kata-kata, 'tolong untuk menerima anak saya dan mengasihinya seperti mengasihi kakaknya'," tutur Sara.

Ia juga mengatakan, jika memang orang di sekitarnya ada yang menolak, maka mereka tidak perlu lagi ada di hidupnya. Sebab, artinya mereka memiliki value yang berbeda dengannya.

Menurut Dra Anisa Cahya Ningrum, psikolog sekaligus pendiri Cahya Communication dan Tim Khusus IC4RD, salah satu alasan mengapa ada keluarga yang tidak bisa menerima Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah karena kekhawatiran dan ketidaktahuan mereka harus melakukan apa.

Oleh sebab itu, orang tua anak lah yang harus memandu dan menjelaskan apa saja yang harus dilakukan jika memiliki ABK.

"Jika kita terlihat tabah, kuat, dan menyayangi ABK setidaknya itu menyentuh mereka (keluarga). Sebenarnya kenapa mereka tidak menerima? Karena mereka sangat khawatir. Dan kedua, mereka nggak tahu harus ngapain," kata Anisa.

"Jadi kita harus memandu mereka. Tahapan-tahapan terapi kita ceritakan saja itu sudah bisa membantu setidaknya keluarga yang lain menerima," jelasnya.

Namun, jika terdapat keluarga yang menolak ABK, para orang tua tidak perlu berkecil hati. Sebab, kasus ini dialami oleh banyak keluarga. Hanya saja, orang tua tentunya harus menjadi contoh dengan menyayangi anaknya, apapun kondisinya.

Lalu, bagaimana dengan masa depan Anak Berkebutuhan Khusus? Terapi apa saja yang bisa dilakukan pada ABK?

KLIK DI SINI UNTUK KE HALAMAN SELANJUTNYA



Simak Video "Begini Cara Komunikasi yang Baik dengan Penyandang Disabilitas"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)