Jumat, 09 Apr 2021 16:01 WIB

Vaksin Nusantara Karya Anak Bangsa? BPOM: Penelitinya Banyak Orang Asing

Firdaus Anwar - detikHealth
Scientists are done research on vaccine in laboratory with test tubes on Covid19 Coronavirus type for discover vaccine. (Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/chayakorn lotongkum)
Jakarta -

Vaksin Nusantara ramai diperbicangkan karena disebut-sebut sebagai vaksin COVID-19 karya anak bangsa yang menggunakan platform tak biasa yaitu sel dendritik. Vaksin ini digagas oleh mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.

Namun, vaksin Nusantara pada akhirnya tidak mendapat izin untuk melanjutkan uji klinis oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI. BPOM menyebut ini karena vaksin tidak memenuhi standar mutu bahan dan produksi dalam evaluasi uji klinis fase pertama.

"Badan POM akan menegakkan aturan-aturan yang ada tanpa pandang bulu, apakah itu vaksin dalam negeri atau vaksin luar negeri. Tujuannya tentu satu melindungi siapapun yang terlibat, terutama masyarakat yang dilibatkan," kata Kepala BPOM Penny K Lukito dalam rapat bersama Komisi IX DPR RI, Kamis (8/4/2021).

Riset vaksin Nusantara menjadi polemik ketika sebagian pihak menuding sengaja 'dijegal'. Beredar pendapat bahwa seharusnya riset vaksin Nusantara didukung karena merupakan karya anak bangsa.

Terkait hal tersebut, Penny ingin mempertegas seperti apa kriteria vaksin yang bisa disebut karya anak bangsa. Ia menjelaskan bahwa vaksin Nusantara sebenarnya menggunakan bahan-bahan impor dan lebih banyak dikembangkan oleh tim peneliti asing.

"Apakah ini kita sebut vaksin karya anak bangsa atau bukan? Karena pertama komposisi dari darah yang diambil, kemudian mendapatkan sel dendritik, kemudian ditambahkan antigen growth factor, komponen-komponennya adalah produk impor yang mahal," kata Penny.

"Kedua siapa yang meneliti? Dalam uji klinis fase 1 ini pembahasannya tim peneliti asinglah yang menjelaskan, membela, dan berdiskusi pada saat kita hearing tersebut. Terbukti dari proses pelaksanaan uji klinis, produksinya, semua dilaksanakan oleh tim peneliti asing dari AIVITA," lanjutnya.

Penny mengatakan memang ada peneliti dari Indonesia yang tergabung di dalam tim. Namun, para peneliti tersebut tidak terlibat secara aktif mengembangkan vaksin Nusantara.

"Mereka cuma menonton, tidak melakukan langsung. Dalam pertanyaan dijelaskan bahwa mereka tidak menguasai," pungkasnya.



Simak Video "Khasiat Vaksin Nusantara dr Terawan Dipertanyakan BPOM"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)