Kamis, 15 Apr 2021 10:31 WIB

4 Vaksin Corona Tersandung Isu Miring, Pfizer hingga Johnson & Johnson

Vidya Pinandhita - detikHealth
Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada warga kelompok lanjut usia (lansia) saat vaksinasi massal di SMA Negeri 8 Jakarta, Tebet, Jakarta Selatan, Senin (1/3). 4 vaksin Corona tersandung isu miring. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Berbagai isu miring menggoyang vaksin-vaksin COVID-19 yang ada saat ini. Mulai dari pembekuan darah yang menerpa AstraZeneca dan Johnson & Johnson, hingga kematian sejumlah lansia usai vaksin Pfizer beberapa waktu silam.

Tidak semua isu miring tersebut bisa dibuktikan atau terkonfirmasi kebenarannya, sebagian bahkan cuma salah paham. Namun ada juga yang memaksa sejumlah negara menghentikan sementara penggunaan vaksin tertentu.

Mulai dari Pfizer hingga Sinovac, berikut beberapa vaksin COVID-19 yang sempat diterpa isu miring.

1. Sinovac

Baru-baru ini, beredar kabar China mengakui rendahnya vaksin COVID-19 buatannya. Kabar yang kemudian viral ini memunculkan keraguan terhadan vaksin-vaksin buatan China yang menggunakan platform tertentu.

Namun Kepala Pusat Pengendali Penyakit China (CDC) menegaskan, hal itu adalah kesalahpahaman. Pasalnya dalam diskusi ilmiah di dunia yang pernah dihadirinya, ia mengusulkan agar prosedur vaksinasi dan jenis vaksin yang tidak berurutan perlu dicoba untuk memaksimalkan potensi kemanjuran vaksin.

"Ini adalah pertama kalinya manusia disuntik vaksin novel virus Corona. Semua prosedur vaksinasi kami berbasis ekstrapolasi inokulasi vaksin virus lain sebelumnya, dan sejauh ini bekerja dengan baik Namun jika kedepannya diperlukan perbaikan, kami dapat menyesuaikan karakteristik virus Corona baru dan situasi vaksinasi," klaimnya, dikutip dari Global Times, Selasa (13/4/2021).

Mengingat Sinovac adalah salah satu produk vaksin COVID-19 yang digunakan di Indonesia, Juru bicara vaksinasi COVID-19 dari Kementerian Kesehatan RI dr Siti Nadia Tarmizi, M. Epid menegaskan, Sinovac masih efektif untuk mencegah penularan COVID-19.

"Vaksin Sinovac yang saat ini kita gunakan masih cukup efektif untuk menekan laju penularan. Dari uji klinis di Unpad pun angka pembentukan antibodi yang muncul selama uji klinis tahap 3 yakni 95-99 persen, artinya sudah sangat baik," ujarnya dalam konferensi pers, Senin (12/4/2021).

2. AstraZeneca

Bukan kabar baru, 15 negara di Eropa sempat menangguhkan penggunaan vaksin AstraZeneca lantaran timbul sejumlah laporan kasus pembekuan darah pada penerima vaksin.

Badan Pengawas Obat Eropa (EMA) kemudian menetapkan kasus pembekuan darah sebagai efek samping langka vaksin AstraZeneca.

Meski begitu, dr Nadia menyebut, vaksin AstraZeneca tetap digunakan di Indonesia. Selain nihil laporan pembekuan darah di Indonesia, pula disebabkan faktor manfaat yang lebih besar dibanding risikonya.

Masih disebabkan laporan kasus pembekuan darah pasca penyuntikan vaksin, Otoritas Kesehatan Denmark menyetop penggunaan vaksin AstraZeneca secara permanen mulai Rabu (14/4/2021).

Vaksin Pfizer dan Johnson & Johnson juga tak luput dari isu miring. Selengkapnya di halaman berikut.

Selanjutnya
Halaman
1 2