Kamis, 15 Apr 2021 14:18 WIB

Kelebihan Vaksin Nusantara Vs Kekurangan hingga BPOM Tak Mau Kasih Restu

Vidya Pinandhita - detikHealth
Jonny peneliti utama Vaksin Nusantara Jonny, peneliti utama vaksin nusantara di RSPAD Gatot Soebroto (Foto: Vidya Pinandhita/detikHealth)
Jakarta -

Tanpa restu dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) usai uji klinik Fase 1, penggarapan vaksin Nusantara besutan eks Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto nekat lanjut. Sejumlah anggota DPR RI mengikuti prosedur uji klinik Fase 2 di RSPAD Gatot Soebroto, Rabu (14/4/2021) berupa pengambilan darah.

Peneliti utama vaksin Nusantara, Jonny menjelaskan, darah 'calon' penerima vaksin Nusantara yang diambil kemarin dan hari ini akan didiamkan selama 5 hari.

Setelah itu, sel darah putih dari darah yang diambil akan dikenakan dengan protein S (Spike) sebagaimana yang ada pada virus, dalam proses selama 2 hari. Setelah itu, darah yang telah diolah ini akan disuntikkan kembali ke penerima vaksin.

"Vaksin ini menyediakan vaksin seluler untuk tubuh kita. Jadi itulah kelebihan dari vaksin ini. Kenapa? Karena vaksin ini berasal dari tubuh kita sendiri. Pembuatannya kita sudah biasa di sini," bebernya saat ditemui di Jakarta, Rabu (14/4/2021).

Melihat prosedur vaksinasinya tak sesingkat suntikan vaksin COVID-19 lainnya, Jonny menyebut, pihaknya akan melakukan evaluasi lebih dulu sebelum vaksin dipersiapkan untuk masyarakat luas.

Di samping itu ia optimistis, vaksin garapannya dapat diperuntukkan pengidap penyakit komorbid.

"Tentunya kita bisa meminimalisasi reaksi alergi. Kemudian untuk penyakit-penyakit yang selama ini tidak bisa diberikan vaksin yang lain, itu kita ingin bisa berikan. Karena apa? Karena ini sel tubuh kita sendiri," terangnya lebih lanjut.

Lain kata dari BPOM

Dalam kesempatan sebelumnya, Ketua BPOM Penny K Lukito menegaskan, pihaknya memang tidak pernah menyetop proses penelitian vaksin Nusantara. Akan tetapi karena ada prosedur yang tak sesuai standar, pihaknya belum memberikan izin lebih lanjut, melainkan meminta agar dilakukan perbaikan lebih dulu.

Selain itu, vaksin Nusantara disebut belum memiliki kemampuan imunogenitas sehingga tak kunjung diberi rekomendasi untuk dilanjut.

"Jika ada pelaksanaan uji klinik yang tidak memenuhi standar tahapan preklinik, uji klinik, harus memenuhi poin-poin dalam protokol tapi tidak dilakukan, tentunya akan mengalami masalah sendiri. Tahapan-tahap tersebut tidak bisa diabaikan," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Selasa (13/4/2021).

Namun Jonny menyebut, tahap-tahap penelitian vaksin Nusantara berjalan sesuai kaidah. Perbaikan yang dianjurkan pun ia sebut telah dilakukan.

"Kita perbaiki apa yang sudah dilakukan pada waktu dengar pendapat dengan Komisi IX. Pada dasarnya kan secara ini, mereka tidak keberatan," ujar Jonny.



Simak Video "Klaim Terawan Vaksin Nusantara Diakui Dunia Dibantah Peneliti"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)