Jumat, 16 Apr 2021 13:40 WIB

Vaksin Merah Putih Unair-Biotis Sudah Uji Preklinis, Kapan Produksi Massal?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Berisiko Picu Kanker, 67 Batch Obat Asam Lambung Ranitidin Ditarik BPOM. Kepala BPOM Penny K Lukito Vaksin Merah Putih Unair-Biotis sudah uji preklinis, ini prediksi waktu produksi massal. Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth
Jakarta -

Salah satu kandidat vaksin merah putih, vaksin COVID-19 buatan anak bangsa, sudah memasuki uji preklinis. Vaksin yang dimaksud adalah vaksin COVID-19 berbasis inactivated virus yang dikembangkan Universitas Airlangga (Unair) bekerja sama dengan PT Biotis.

Kandidat vaksin merah putih lain yang juga menjanjikan untuk selesai dalam waktu dekat adalah vaksin berbasis protein rekombinan yang dikembangkan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Vaksin ini diperkirakan bisa mendapat izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) pada akhir semester pertama 2022.

Ini artinya, vaksin merah putih Eijkman diperkirakan telah menyelesaikan tahap uji klinis dan siap diproduksi massal.

"Harapannya adalah semester kedua pada 2022 sudah bisa diproduksi. Dalam waktu bersamaan secara paralel disiapkan fasilitas produksinya untuk selanjutnya, di mana Bio Farma bekerja sama dengan industri farmasi swasta lainnya. Timeline sudah ada, semoga itu bisa kita kejar," ujar Ketua Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito dalam konferensi pers virtual, Jumat (16/4/2021).

Konsorsium Vaksin Merah Putih mencakup sejumlah riset pengembangan vaksin. Selain Unair dan Eijkman, juga ada Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang turut mengembangkan kandidat vaksin merah putih.

Menurut Penny, prediksi waktu tersebut tak perlu dikhawatirkan gagal mengejar herd immunity. Pasalnya, jumlah vaksin COVID-19 asal negara lain yang tersedia kini diperhitungkan masih mencukupi kebutuhan masyarakat Indonesia, sampai vaksin Merah Putih buatan sendiri siap diproduksi.

"Vaksin-vaksin yang sudah ada sekarang pun cukup banyak yg ktia andalkan. Tentunya ada dinamika yg memang diakibatkan demand-nya secara global itu ada. Tapi kita akan terus berjuang setiap kita stuck di 1 vaksin misalnya, tentunya ada ini vaksin yang lain. Produksi vaksin kan berbagai macam. Saya kira kita perlu optimis dalam hal ini," terang Penny.

Ia tak memungkiri, Indonesia masih bergantung pada bahan baku vaksin COVID-19 dari luar negeri. Akan tetapi, kondisi ini berjalan seiring upaya Indonesia dalam memproduksi vaksin COVID-19 sendiri.

Ia berharap, produksi vaksin Merah Putih ini bisa menjadi akses untuk Indonesia 'keluar' dari pandemi COVID-19.



Simak Video "2 Progres Vaksin Merah Putih Tercepat: Buatan Eijkman dan UNAIR"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)