Jumat, 16 Apr 2021 15:40 WIB

Kasus COVID-19 di India Mengganas, Disebabkan Varian Mutan Ganda?

Firdaus Anwar - detikHealth
Indians, their faces smeared with color and glitter, dance as water is sprinkled on them during Holi celebrations in Prayagraj, India, Monday, March 29, 2021. Hindus threw colored powder and sprayed water in massive Holi celebrations Monday despite many Indian states restricting gatherings to try to contain a coronavirus resurgence rippling across the country. (AP Photo/Rajesh Kumar Singh) Ramainya festival tanpa protokol kesehatan disebut jadi penyebab lonjakan kasus COVID-19. (Foto: AP/Rajesh Kumar Singh)
Jakarta -

India kini menjadi negara dengan kasus COVID-19 terbanyak kedua di dunia, menyusul Brazil. Total sudah ada 14.291.917 kasus COVID-19 yang terkonfirmasi di India, dengan rekor kasus harian tertinggi mencapai lebih dari 200.000 pada 15 April 2021.

Kondisi ini memaksa pemerintah India untuk menutup keran ekspor vaksin COVID-19. India yang diketahui merupakan salah satu produsen vaksin COVID-19 terbesar di dunia bahkan pada akhirnya sampai harus mengimpor vaksin untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Para ahli menyebut kejadian kumpulan orang dalam acara besar, seperti pada pemilihan umum dan festival keagamaan jadi faktor pendorong lonjakan kasus COVID-19.

Selain itu disebut juga faktor kemunculan varian COVID-19 baru bernama B1617. Varian B1617 disebut juga sebagai varian mutan ganda karena terdeteksi memiliki dua mutasi kunci yang sebelumnya tidak pernah dilaporkan ada secara bersamaan pada varian lain.

National Institute of Virology (NIV) akhir pekan lalu membeberkan data yang menunjukkan varian B1617 terdeteksi pada 220 sampel atau sekitar 61 persen dari sampel yang dilakukan tes genomic sequencing.

Varian Corona B1617 disebut kemungkinan bisa bersifat lebih mudah menular, namun perlu pembuktian lebih jauh lewat studi.

Ahli mikrobiologi Dr Gangandeep Kang dari Christian Medical Colleg mengatakan kemungkinan besar ada kaitan antara varian baru dengan lonjakan kasus COVID-19 di India. Hanya saja kembali lagi untuk mendapat kesimpulan yang akurat, minimal sampel yang diperiksa mencapai satu persen dari seluruh kasus COVID-19.

"Kita harus melihat seberapa banyak orang yang yang bisa diinfeksi oleh varian ini, berapa batas siklus RT-PCR-nya. Perlu ada pelacakan langsung. Data yang diambil Januari ini nilainya sudah tidak terlalu bermanfaat di bulan April," komentar Kang seperti dikutip dari Indian Express, Jumat (16/4/2021).



Simak Video "Ahli Gizi Ingatkan Jaga Pola Makan Seimbang Saat Puasa"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)