Jumat, 16 Apr 2021 20:00 WIB

Vaksin Nusantara Dituding Bukan Karya Anak Bangsa, Penelitinya Meradang

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
vaksin nusantara Riset vaksin nusantara (Foto: Angling/detikHealth)
Jakarta -

Salah satu peneliti vaksin Nusantara dr Muhammad Karyana angkat bicara usai vaksinnya ramai dituding bukan karya anak bangsa. Ia berdalih, bantuan dari Amerika Serikat atau pihak AIVITA Biomedical hanya sebatas transfer alih teknologi.

Menurutnya, penelitian vaksin berbasis sel dendritik ini tentu akan dikembangkan secara mandiri.

"Darahnya darah siapa, yang ngerjain siapa begitu? itu apa semua orang AS datang sendiri? Ya makanya nanti kita harapkan kalau di RSUP dr Kariadi sudah bisa, maka bisa mengajak RS lain," kata dr Karyana, dikutip dari CNNIndonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebelumnya juga mengungkap hasil hearing atau diskusi bersama para peneliti vaksin Nusantara 16 Maret 2021. Disebutkan, para peneliti tak menguasai proses pengembangan vaksin berteknologi dendritik.

Hal ini dibantah dr Karyana. Ditemui di Kantor Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), ia menyebut seluruh peneliti sudah menguasai proses pengembangan dan penggunaan sel dendritik pada relawan uji vaksin Nusantara meski tak menampik kenyataan di uji Fase I, ada 3 subjek pilot project yang dikerjakan peneliti AIVITA dari AS.

Pengembangan vaksin diklaim cukup murah

Perihal vaksin yang disebut-sebut memakan biaya mahal, dr Karyana juga keberatan. Ia menegaskan vaksin Nusantara justru bisa memangkas biaya penyimpanan dan distribusi karena tak membutuhkan cold chain.

"Mungkin mahal yang dimaksud itu hanya proses waktu dibuat. Tapi adanya transfer alih teknologi ya itu kita harapkan bisa buat sendiri, dan nanti lebih murah," tuturnya.

Didanai Kemenkes saat dr Terawan menjabat

dr Karyana yang juga Pelaksana Tugas Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membenarkan pembiayaan uji Fase I mengalir dari Balitbangkes, Kemenkes. Namun, soal informasi aliran dana yang beredar mencapai Rp 29 miliar menurutnya keliru.

"Iya (didanai), tapi tidak (29 miliar), belum. Uji klinis Fase I hanya 28 orang, hanya berapa, itu juga sebagian besar uangnya digunakan untuk beli peralatan yang kita taruh di RSUP dr Kariadi," kata dr Karyana tanpa memastikan detail jumlah dana yang diberikan pada uji fase I vaksin Nusantara.

Kata dia, pembiayaan vaksin Nusantara kini sudah disetop sejak Terawan Agus Putranto tak lagi menjabat sebagai Menkes dan digantikan Budi Gunadi Sadikin.

"Iya dihentikan setelah beliau diganti," pungkasnya.

dr Karyana menyebut pembiayaan vaksin Nusantara wajar karena jika berhasil, bisa memenuhi pasokan vaksin Corona di Indonesia.



Simak Video "Vaksin COVID-19 Karya RI Pakai Sel Dendritik, Ini Cara Kerjanya"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)