Selasa, 20 Apr 2021 08:00 WIB

5 Fakta 'Tsunami' COVID-19 di India, Menerjang Saat Dekati Herd Immunity

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Para penziarah memadati sungai Gangga (AFP Photo) Para penziarah memadati sungai Gangga (AFP Photo)
Jakarta -

COVID-19 di India sempat mereda, namun lonjakan kembali terjadi saat para ilmuwan memperkirakan herd immunity sudah hampir tercapai. Pada Sabtu (17/4/2021) lalu, negara tersebut melaporkan sebanyak 260.778 kasus baru COVID-19.

Para pakar di India menyebut lonjakan kasus ini kemungkinan disebabkan karena adanya varian baru Corona yang lebih cepat menular. Hal ini diperburuk dengan banyaknya warga India yang tak lagi khawatir akan bahayanya virus tersebut.

"Orang-orang menjadi sangat terlena, bertindak seolah-olah virus itu telah hilang, yang tidak masuk akal," kata Senthil, ahli urologi di Coimbatore, Tamil Nadu, dikutip dari The Guardian.

"Sekarang kami mengalami gelombang infeksi virus Corona yang jauh lebih buruk daripada yang pertama dan skala penyebarannya semakin buruk. Di Tamil Nadu, hanya dibutuhkan waktu 15 hari untuk mencapai tingkat kasus yang sama di rumah sakit yang merupakan puncaknya terakhir kali. Di kota-kota besar di negara bagian, rumah sakit sudah hampir penuh," lanjutnya.

Berikut beberapa fakta 'tsunami' COVID-19 di India yang perlu diketahui.

1. Ribuan kasus positif COVID-19 pasca ritual keagamaan

Lebih dari 1.000 orang dinyatakan positif virus Corona setelah perayaan ritual mandi bareng di sungai atau Kumbh Mela, dan dilaksanakan dalam beberapa hari. Kebanyakan dari peserta ritual ini tidak menerapkan protokol kesehatan saat mandi bersama di Sungai Gangga, India.

2. Mayat bertumpuk di luar rumah sakit

Akibat tsunami kasus virus Corona, mayat-mayat bertumpuk di luar rumah sakit pemerintah India, Raipur. Ini disebabkan karena banyaknya pasien Corona yang tidak mampu bertahan dan akhirnya meninggal. Namun, karena jumlahnya yang terlalu banyak tidak mungkin bisa dikremasi dengan cepat.

3. Tempat kremasi jenazah penuh

Di Surat, salah satu negara bagian Gujarat, krematorium dipenuhi korban COVID-19. Ini membuat pihak keluarga terpaksa harus membakar jenazah-jenazah itu di tempat yang terbuka.

"Kasus tsunami yang parah ini telah membanjiri infrastruktur perawatan kesehatan di negara bagian itu," kata Dr Shashank Joshi, anggota gugus tugas Mumbai COVID-19 India.

"Kali ini kami melihat orang-orang yang lebih muda antara 20 dan 40 mengalami dampak serius dan bahkan anak-anak sekarang dirawat di rumah sakit dengan gejala yang parah. Kapasitas sistem perawatan kesehatan untuk bertahan semakin menyusut," imbuhnya.

4. Keterbatasan pasokan oksigen

Sejumlah rumah sakit mengalami kesulitan untuk mendapatkan pasokan oksigen hingga membuat banyak pasien Corona tak bisa terselamatkan. Menurut seorang politisi lokal di kotamadya Vasai-Virar, Maharashtra, ia membuat permohonan publik untuk membantu mengatasi kekurangan oksigen tersebut.

"Pasokan hanya dapat berjalan selama tiga jam," katanya dalam tweet yang ditujukan kepada pemerintah pusat dan perdana menteri Narendra Modi.

"Ada lebih dari 7.000 kasus aktif di daerah tersebut dan lebih dari 3.000 orang membutuhkan suplai oksigen setiap hari," lanjut Thakur.

5. Kurangnya jumlah bed dan obat-obatan di RS

Selain pasokan oksigen, jumlah bed di rumah sakit untuk menangani pasien Corona juga terbatas. Di New Delhi, kota yang paling parah terdampak COVID-19 ini bahkan hanya memiliki bed atau tempat tidur kurang dari 100 di seluruh RS.

Menurut Kepala Menteri Arvind Kejriwal, banyak warga India yang mengeluh soal kurangnya jumlah tempat tidur di RS, tabung oksigen, hingga obat-obatan.

"Kekhawatiran yang lebih besar adalah bahwa dalam 24 jam terakhir angka positivity rate meningkat menjadi sekitar 30 persen dari sebelumnya 24 persen. Kasus-kasus meningkat sangat cepat. Tempat tidurnya cepat terisi," kata Kejriwal dalam jumpa pers.



Simak Video "Miris! Istri Antar Jenazah Suami yang COVID-19 dengan Becak di India"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)