Selasa, 27 Apr 2021 19:09 WIB

Orang-orang Panik ke RS Bikin Makin Parah Tsunami COVID-19 India

Firdaus Anwar - detikHealth
A COVID-19 patient attended inside a vehicle at a dedicated COVID-19 government hospital in Ahmedabad, India, Thursday, April 22, 2021. A fire killed 13 COVID-19 patients in a hospital in western India early Friday as an extreme surge in coronavirus infections leaves the nation short of medical care and oxygen. India reported another global record in daily infections for a second straight day Friday, adding 332,730 new cases. The surge already has driven its fragile health systems to the breaking point with understaffed hospitals overflowing with patients and critically short of supplies. (AP Photo/Ajit Solanki) Foto: AP/Ajit Solanki
Jakarta -

Gelombang tsunami COVID-19 yang parah di India membuat orang-orang panik dan mendatangi rumah sakit (RS) setiap merasa sakit. Hal ini disebut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) jadi masalah karena artinya membuat sistem kesehatan semakin terbebani.

Jumlah kematian karena COVID-19 di India kini semakin mendekati angka 200.000. Banyak rumah sakit sudah kewalahan tidak sanggup merawat pasien karena kehabisan tempat tidur dan suplai oksigen medis.

"Sekarang yang jadi masalah adalah orang-orang panik langsung ke rumah sakit, sebagian karena tidak memiliki akses informasi atau saran medis. Padahal sebenarnya perawatan di rumah dengan pengawasan bisa dilakukan dengan aman," kata juru bicara WHO Tarik Jasarevic seperti dikutip dari Reuters, Selasa (27/4/2021).

Tarik menyarankan agar pusat informasi di tingkat komunitas yang bisa memberi saran upaya perawatan medis COVID-19 di rumah. Selain itu disediakan juga sumber informasi yang bisa diakses lewat internet atau telepon.

WHO dilaporkan sudah mengirimkan bantuan tenaga dan suplai kebutuhan medis ke India. Termasuk di antaranya 4.000 unit konsentrator oksigen.

"Sama seperti yang terjadi di negara lain. WHO sudah mengingatkan kombinasi pelonggaran protokol kesehatan, kegiatan berkerumun, varian yang lebih mudah menular, dan cakupan vaksinasi yang masih rendah akan menimbulkan 'badai yang sempurna'," pungkas Tarik.



Simak Video "Cerita Jurnalis India Menyaksikan Kekacauan Tsunami COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)