Rabu, 28 Apr 2021 16:13 WIB

15 Rekomendasi IDAI Soal Sekolah Tatap Muka Kalau Terpaksa Harus Buka

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Guru memberikan pelajaran kepada murid saat uji coba belajar tatap muka di kawasan SDN 11 Pademangan Barat, Jakarta Utara, Rabu (7/4). SDN Pademangan Barat 11 memulai uji coba belajar tatap muka bagi siswa kelas V di tengah pandem COVID-19. Protokol kesehatan menjadi hal utama baik bagi siswa maupun tenaga pendidik. Kegiatan sekolah tatap muka. (Foto ilustrasi: Pradita Utama)
Jakarta -

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) belum merekomendasikan sekolah tatap muka yang rencananya akan mulai dibuka secara terbatas pada Juli 2021. Menurut IDAI, penularan COVID-19 masih belum terkendali.

Ketua Umum IDAI dr Aman B Pulungan mengatakan, salah satu alasan sekolah tatap muka belum direkomendasikan adalah karena tingkat positivity rate COVID-19 di Indonesia masih di atas 5 persen.

"Persyaratan untuk dibukanya kembali sekolah antara lain terkendalinya transmisi lokal yang ditandai dengan positivity rate kurang lebih 5 persen dan menurunnya tingkat kematian," kata dr Aman dalam keterangan resmi yang diterima detikcom, Rabu (28/4/2021).

Hanya saja jika sekolah tatap muka tetap dimulai, maka pihak sekolah harus menyiapkan metode pembelajaran secara luring (luar jaringan atau offline) dan daring (dalam jaringan atau online). Kemudian memberi kebebasan kepada orang tua untuk memilih anaknya diizinkan untuk belajar di sekolah atau di rumah.

dr Aman mengatakan anak yang belajar secara luring maupun daring pun harus memiliki hal dan perlakuan yang sama dalam kegiatan belajar dan mengajar.

"Mengingat prediksi jangka waktu pandemi COVID-19 yang masih belum dapat ditentukan, maka guru dan sekolah hendaknya mencari inovasi baru dalam proses belajar mengajar, misalnya, memanfaatkan belajar di ruang terbuka, seperti taman, lapangan, sekolah di alam terbuka," jelas dr Aman.

Selain itu, IDAI juga menjelaskan beberapa hal yang perlu diperhatikan jika ingin sekolah tatap muka kembali dilaksanakan. Di antaranya sebagai berikut.

Panduan sekolah tatap muka untuk pihak penyelenggara, orang tua, dan evaluator.

  1. Semua guru dan pengurus sekolah yang berhubungan dengan anak dan orang tua atau pengasuh harus sudah divaksin.
  2. Buat kelompok belajar kecil. Kelompok ini yang berinteraksi secara terbatas di sekolah. Tujuannya jika ada kasus konfirmasi positif, contact tracing dapat dilakukan secara efisien.
  3. Jam masuk dan pulang sekolah harus bertahap untuk menghindari penumpukan siswa.
  4. Penjagaan gerbang dan pengawasan diperlukan untuk mencegah kerumunan di gerbang sekolah.
  5. Jika menggunakan kendaraan antar jemput, pastikan semua memakai masker dan menjaga jarak serta membuka jendela mobil.
  6. Buka semua jendela kelas. Gunakan area outdoor jika memungkinkan. Jika berada di ruang kelas tertutup pastikan memakai High Efficiency Particulate Air (HEPA) filter.
  7. Membuat pemetaan risiko siswa dengan komorbid, orangtua siswa dengan komorbid, atau tinggal bersama lansia atau guru dengan komorbid. Anak dengan komorbiditas atau penyakit kronik sebaiknya tetap belajar secara daring.
  8. Idealnya sebelum membuka sekolah, semua anak maupun guru dan petugas sekolah harus melakukan tes swab dan secara berkala dilakukan pemeriksaan swab ulang.
  9. Ada fasilitas cuci tangan di lokasi-lokasi strategis di sekolah (sebelah kelas, sebelah toilet, dll).
  10. Jika ada anak atau guru atau petugas sekolah masuk kriteria suspek, maka harus bersedia melakukan tes swab.
  11. Sekolah dan tim UKS menyiapkan alur mitigasi jika ada warga sekolah yang sakit dan sesuai kriteria diagnosis suspek atau probable atau kasus terkonfirmasi COVID-19.
  12. Melatih siswa untuk menggunakan masker secara benar dan menyediakan tempat pembuangan masker, serta menyediakan masker cadangan.
  13. Melatih anak untuk tidak memegang mata, hidung, dan mulut tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Kemudian mengajari etika batuk dan bersin yang benar
  14. Melatih anak untuk mengenali tanda COVID-19 secara mandiri dan melaporkan jika ada orang serumah yang sakit. Kemudian tidak melakukan stigmatisasi terhadap teman yang terinfeksi COVID-19.
  15. Jika anak sakit atau perlu isolasi, sekolah menekankan pentingnya tetap ada di rumah, tanpa takut soal pengurangan nilai.


Simak Video "Dampak Pandemi COVID-19, 13 Persen Anak-anak Alami Depresi"
[Gambas:Video 20detik]
(ryh/up)