Jumat, 30 Apr 2021 13:53 WIB

Disetujui BPOM, Vaksin Sinopharm Berasal dari Negara Mana?

Ayunda Septiani - detikHealth
China memamerkan vaksin Corona untuk pertama kali di China International Fair for Trade in Services. Kandidat vaksin Corona yang dipamerkan merupakan produksi perusahaan China Sinovac Biotech dan Sinopharm. Foto: AP/Mark Schiefelbein
Jakarta -

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) baru saja mengeluarkan izin penggunaan darurat vaksin COVID-19 untuk vaksin Sinopharm. Banyak yang penasaran, vaksin Sinopharm berasal dari negara mana?

Vaksin ini dibuat oleh Sinopharm atau China National Pharmaceutical Group. Di Indonesia, vaksin yang baru saja disetujui ini nantinya akan digunakan dalam program vaksinasi gotong royong yang didistribusikan oleh Kimia Farma.

"EUA 2159000143A2 untuk vaksin dengan kemasan 1 vial berisi 0,5 ml. Indikasi yang disetujui adalah untuk membentuk antibodi untuk mencegah COVID-19 pada orang dewasa di atas 18 tahun dengan pemberian dosis pada durasi 21-28 hari," kata Kepala BPOM Penny K Lukito, dalam konferensi pers, Jumat (30/4/2021).

Vaksin Sinopharm dikembangkan dengan platform inactivated virus, yaitu virus yang sudah dimatikan. Metode atau platform juga digunakan oleh Sinovac untuk membuat vaksin COVID-19 CoronaVac. Vaksin Sinopharm juga telah melakukan uji klinis fase 3 yang melibatkan 42 ribu relawan dan dilakukan di Uni Emirat Arab.

Dalam hasil uji klinis ditemukan efikasi sebesar 78 persen. Adapun pengukuran imunogenitas setelah 14 hari pemberian dosis kedua vaksin Sinopharm memiliki netralitas yang cukup besar. Pada orang dewasa mencapai 99,52 persen, sementara pada lansia 100 persen.

Menurut Kepala BPOM, efek samping yang ditimbulkan pasca penyuntikan masih bisa ditoleransi dengan baik. Kejadian efek sampingnya sangat jarang terjadi.

Efek samping dari vaksin Sinopharm yang terjadi meliputi efek samping lokal ringan dan sistematik.

Efek samping lokal ringan (tingkat kejadian 0,01 persen)

  • Bengkak
  • Rasa sakit
  • Kemerahan

Efek samping sistemik (tingkat kejadian 0,1 persen)

  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Demam
  • Batuk

"Jadi, dari aspek keamanan adalah baik kategorinya, dapat ditoleransi dengan baik," kata Penny.



Simak Video "Apakah Tubuh Jadi Kebal COVID-19 Setelah Divaksin? "
[Gambas:Video 20detik]
(ayd/up)