Senin, 10 Mei 2021 09:45 WIB

Kematian Corona India Cetak Rekor, WHO: Varian Mutan Ganda Pembawa 'Bencana'

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
New Delhi - India kembali melaporkan rekor tertinggi untuk kasus harian virus Corona (COVID-19) di wilayahnya, dengan mencatat lebih dari 414 ribu kasus dalam 24 jam terakhir. Ini berarti selama sepekan terakhir, India mencatat 1,57 juta kasus Corona di berbagai wilayahnya. Foto: AP Photo
Jakarta -

Kasus kematian Corona India terus mencetak rekor. Dalam 24 jam terakhir mencatat 4.187 kasus kematian COVID-19.

Lockdown di India lantas diperketat. Di tengah badai kasus COVID-19 yang tak kunjung mereda, angka kematian diperkirakan akan mencapai 1 juta kasus di Agustus mendatang.

Hal ini diungkap Institute for Health Metrics and Evaluation. Menurut para pakar medis, jumlah nyata kasus COVID-19 dan kematian bahkan cenderung jauh lebih tinggi daripada penghitungan resmi.

Wilayah Tamil Nadu, yang terkenal dengan manufaktur mobilnya termasuk BMW, Daimler, Hyundai, Ford, Nissan dan Renault, akan beralih dari lockdown sebagian menjadi 'lockdown penuh' seluruh wilayah. Mereka juga menutup semua transportasi umum, terhitung hari ini.

Hal serupa diterapkan di wilayah lain India, ibu kota Bengaluru. Meski begitu, India diketahui tidak melakukan lockdown nasional sama seperti saat menghadapi gelombang pertama COVID-19.

Namun, hampir sebagian dari seluruh wilayah di India sudah melakukan lockdown.

Apakah pemicu kasus terus 'meledak' adalah Corona mutan ganda B1617?

Kepala Ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Soumya Swaminathan mengingatkan varian Corona India mutan ganda kemungkinan besar menjadi penyebab kasus Corona India terus melonjak, termasuk angka kematian.

"Fitur epidemiologi yang kita lihat di India saat ini memang menunjukkan bahwa itu adalah varian yang menyebar dengan sangat cepat," beber Soumya, saat wawancara dengan AFP, dikutip Senin (10/5/2021).

Menurutnya, varian Corona India mutan ganda B1617 jelas merupakan faktor penyebab 'bencana' di India. "Ada banyak akselerator yang dimasukkan ke dalam hal ini," tutur ilmuwan klinis berusia 62 tahun itu.

Varian Corona B1617 pertama kali ditemukan di India Oktober lalu. Kini, Amerika Serikat dan Inggris menganggapnya sebagai 'variant of concern', mengindikasikan jika virus Corona tersebut lebih berbahaya daripada virus aslinya.

Varian Corona India b1617 bisa 'mengecoh' vaksin

Selain jumlah kasus dan kematian, Swaminathan mengatakan bahaya lain adalah meningkatnya kemungkinan varian yang bisa mengecoh vaksin. "Varian yang menumpuk banyak mutasi pada akhirnya bisa menjadi kebal terhadap vaksin yang kita miliki saat ini," katanya.

Gelombang kedua COVID-19 di India berdampak pada sistem perawatan kesehatan, sejumlah fasilitas RS di ambang kehancuran. Para pasien meninggal karena kekurangan oksigen hingga sulitnya akses mendapat tempat tidur rumah sakit.

Lagi-lagi, perdana menteri Narendra Modi dikritik lantaran tidak maksimal dalam penanganan COVID-19 dan dinilai cenderung meremehkan. Terutama terkait pasokan oksigen yang hingga kini belum selesai.

Jurnal medis Lancet mengatakan dalam sebuah editorial pada hari Sabtu bahwa upaya Modi untuk menahan kritik 'tidak bisa dimaafkan'.

"India sekarang harus merestrukturisasi tanggapannya saat krisis berkecamuk. Keberhasilan upaya itu akan bergantung pada penerapan tanggapan kesehatan masyarakat yang memiliki inti ilmu pengetahuan," jelas Lancet.



Simak Video "Jerman Kirim Alat Kesehatan untuk Hadapi 'Tsunami Corona' di India"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)