Kamis, 13 Mei 2021 09:51 WIB

B1617 Ada di 49 Negara-100 Jenazah Diduga Corona Ditemukan di Pantai India

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Jakarta -

Varian Corona India mutan ganda 'naik kelas' menjadi variant of concern global menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Varian ini juga sudah tersebar ke 49 negara.

Ada kekhawatiran yang mencuat dari badan kesehatan PBB soal varian Corona India B1617. Varian mutan ganda dikhawatirkan picu gejala buruk lantaran lebih dari 4 ribu kasus baru kematian Corona di India tercatat setiap harinya.

Jumlah total infeksi COVID-19 yang dikonfirmasi di India sekarang di atas 23 juta, Kementerian Kesehatan seteempt melaporkan 348.421 kasus baru pada 24 jam terakhir.

Lonjakan kasus Corona di negara terpadat kedua di dunia, membuat India bak diterpa bencana yang tak kunjung henti. Rumah sakit terisi penuh, banyak dari mereka kekurangan oksigen akut bagi pasien Corona kritis.

Krematorium darurat ikut dibangun untuk bergegas mengkremasi jenazah Corona yang tak kunjung henti berdatangan. Para ahli meyakini angka korban Corona sebenarnya jauh lebih tinggi dari yang dilaporkan.

Lebih dari 100 mayat ditemukan di pantai India

VOA melaporkan, lebih dari 100 mayat diduga jenazah pasien Corona mengambang di Sungai Gangga. Gambar mayat mengambang lantas viral di media sosial dan disorot banyak publik.

Meski begitu, pihak berwenang belum menentukan penyebab kematian mayat-mayat itu, tetapi beberapa ahli medis mewanti-wanti jika benar pasien Corona, ada kemungkinan virus menyebar melalui air yang terkontaminasi.

Situasi di India menjadi salah satu alasan Federasi Internasional Palang Merah mengatakan kasus virus korona telah 'meledak' di seluruh Asia dalam dua minggu terakhir. Badan bantuan global mengatakan pada Rabu bahwa kawasan Asia mencatat 5,9 juta infeksi baru selama periode lonjakan Corona India berlangsung, lebih banyak daripada sumbangan kasus gabungan dari Amerika, Eropa dan Afrika.

Tujuh dari 10 negara yang mencatat angka infeksi mereka paling cepat berada di Asia dan Pasifik.

Alexander Matheou, direktur IFRC Asia Pasifik, menyerukan kerja sama dunia yang lebih responsif dan cepat. Hal ini untuk memastikan ketersediaan sumber daya yang menyelamatkan nyawa seperti, peralatan medis, vaksin, dan uang yang dibutuhkan untuk membantu orang yang paling berisiko.

"Kami hanya aman jika semua orang aman," kata Matheou.

(naf/naf)