Kamis, 27 Mei 2021 10:41 WIB

COVID-19 di Malaysia Disebut 'Lebih Parah' dari India, Ini Alasannya

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Jakarta -

Berdasarkan perhitungan Our World in Data, kasus COVID-19 harian di Malaysia meningkat pesat dan telah melampaui tren di India ketika kritis. Mengapa begitu?

Dikutip dari CNBC International, India telah mengalami gelombang kedua Corona sejak April 2021, yang membuat negara itu memiliki beban kasus COVID-19 terbesar kedua di dunia. Saat ini, jumlah kasus harian di India cenderung menurun, namun tetap di kisaran ratusan ribu kasus per hari.

Secara umum, jumlah kasus COVID-19 di India tentu lebih besar dibandingkan Malaysia. Namun, apabila dihitung secara kasus harian per satu juta penduduk dalam satu pekan terakhir, COVID-19 di Malaysia telah melampaui India.

Data statistik terbaru pada hari Selasa menunjukkan bahwa Malaysia melaporkan 205,1 kasus per satu juta penduduk dalam satu pekan, sementara India 150,4 per satu juta penduduk. Populasi Malaysia yang berjumlah sekitar 32 juta jauh lebih kecil dari 1,4 miliar di India.

Ini bukanlah pertama kalinya COVID-19 di Malaysia mengalahkan India. Our World in Data menunjukkan kasus harian Corona Malaysia per satu juta penduduk juga pernah lebih tinggi daripada India pada 15 November 2020 dan 27 Maret 2021.

Saat ini Malaysia tengah menghadapi lonjakan kasus COVID-19. Pada Rabu (26/5/2021) kemarin, negara itu kembali mencatatkan rekor kasus baru Corona sebanyak 7.478 kasus.

Kemudian kasus kematian akibat COVID-19 di Malaysia juga kembali mencetak rekor, yakni 63 orang dalam sehari. Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia Tan Sri Dr Noor Hisham Abdullah pun mengatakan saat ini ada 756 pasien Corona yang sedang dirawat di ICU.

"Dari 756 pasien yang dirawat di ICU, 377 membutuhkan ventilator untuk membantu mereka bernapas," kata Noor Hisham, dikutip dari Malay Mail.

Noor Hisham juga mengingatkan warganya untuk bersiap diri menghadapi situasi yang lebih buruk dan mendesak mereka agar tidak melakukan aktivitas di luar rumah, jika tidak penting.

"Kita perlu bersiap untuk yang terburuk," ujar Noor Hisham.

(ryh/fds)