Jumat, 28 Mei 2021 16:48 WIB

Banyak Negara Sudah Mulai Lepas Masker, Indonesia Kapan Nyusul?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
People without face masks watch the sunset, in Tel Aviv, Israel, Sunday, April 18, 2021. Israel has lifted a public mask mandate and fully reopened its education system in the latest easing of coronavirus restrictions following its mass vaccination drive. (AP Photo/Oded Balilty) Foto: AP/Oded Balilty
Jakarta -

Di tengah pandemi COVID-19, beberapa negara di dunia sudah mulai menghapus aturan wajib pakai masker. Orang-orang tersebut boleh bebas melepas masker di kondisi tertentu, asalkan sudah mendapatkan vaksinasi secara penuh.

Beberapa negara di antaranya termasuk Amerika Serikat, Israel, Bhutan, Selandia Baru, Australia, hingga China. Kebanyakan dari negara ini juga mengklaim sudah sukses mengendalikan laju pandemi COVID-19.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Menurut pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman, Indonesia masih belum bisa memberlakukan aturan melepas masker. Hal ini karena status pengendalian pandemi COVID-19 di Indonesia berbeda dengan negara-negara tersebut.

"Jawabannya tentu tidak, karena ya berbeda status pengendalian pandemi. Mereka (negara-negara bebas masker), terutama Israel, Selandia Baru, Australia, Korea Selatan, sudah dalam level pandemi yang terkendali baik," jelas Dicky saat dihubungi detikcom, Jumat (28/5/2021).

"Itu test positivity rate-nya sudah jauh di bawah 3 persen, bukan 5 persen lagi. Bahkan untuk Australia dan Selandia Baru sudah di bawah 1 persen. Artinya, kasus COVID-nya sudah jarang, mungkin sudah 1 per 5 juta, itu pun jarang," lanjutnya.

Sementara di Indonesia, Dicky mengatakan test positivity rate-nya masih selalu di atas 10 persen selama setahun ini. Hal ini menandakan bahwa pandemi COVID-19 di Indonesia masih belum terkendali.

"Karena kalaupun dilaporkan kasusnya cuma 100 tapi test positivity rate-nya masih di atas 10 persen, berarti bukan 100 kasusnya, bisa berkali lipat dari itu," kata Dicky.

Selain itu, Dicky menegaskan kriteria jika suatu negara bisa mengendalikan pandemi bukan dari segi vaksinasinya saja. Hal utama yang menjadi tolak ukur adalah test positivity rate.

Ia mengatakan jumlah vaksinasi di Selandia Baru dan Australia saat ini masih lebih kecil dibandingkan negara lain. Tetapi, dengan test positivity rate yang baik maka dianggap sudah bisa mengendalikan pandemi COVID-19.

"Jadi bukan soal vaksinasinya. Jadi yang pertama itu test positivity rate-nya, terkendalinya, baru vaksin. Tapi yang paling utama itu ya 3T tetep," tegas Dicky.

"Jadi ya Indonesia tidak bisa memberlakukan itu (lepas masker), perjalanan masih jauh," pungkasnya.



Simak Video "WHO Soroti AS yang Tak Wajibkan Warganya Gunakan Masker Usai Vaksinasi"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)