Senin, 31 Mei 2021 20:57 WIB

Tema Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2021 dan Sejarahnya

Firdaus Anwar - detikHealth
Berhenti merokok Foto: Shutterstock
Jakarta -

Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2021 jatuh pada tanggal 31 Mei. Sejarah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dimulai dari tahun 1987, ketika dunia mulai menyadari bahaya rokok.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) jadi penggagas Hari Tanpa Tembakau Sedunia untuk meningkatkan perhatian dunia terkait ancaman tembakau yang memicu penyakit dan kematian. Tujuan utamanya adalah untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan generasi mendatang.

Dalam ajang pertemuan World Health Assembly tahun 1987, awalnya ditentukan peringatan "Hari Tanpa Rokok Sedunia" tiap 7 April yang kemudian menjadi "Hari Tanpa Tembakau Sedunia" tiap 31 Mei.

WHO mengatakan tema Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2021 adalah "berhenti merokok dengan komitmen". WHO meluncurkan berbagai kampanye dengan target bisa membantu 100 juta orang berhenti merokok lewat berbagai inisiasi.

"Pandemi COVID-19 sudah membuat jutaan pengguna tembakau ingin berhenti merokok. Hampir 60 persen perokok di dunia mengaku ingin berhenti, tapi hanya 30 persen dari populasi yang memiliki akses terhadap layanan berhenti merokok," tulis WHO seperti dikutip dari situs resminya pada Senin (31/5/2021).

"WHO meluncurkan kampanye global dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2021 dengan slogan 'berhenti dengan komitmen'. Targetnya membantu 100 juta orang berhenti memakai tembakau lewat berbagai inisiasi dan alat digital," lanjut WHO.

Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Indonesia

Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2021 juga disambut oleh berbagai pihak di Indonesia. Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyebut Indonesia masih jadi negara dengan jumlah perokok ketiga terbesar di dunia dan peringkat pertama di Asia Tenggara.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2018 (Riskesdas), jumlah perokok muda di Indonesia yang berumur 10-18 tahun meningkat jadi 9,1 persen dari yang tadinya 7,2 persen pada tahun 2013.

Menurunt Menkes Budi, beban negara akibat penyakit yang ditimbulkan oleh rokok di tengah masyarakat tidak sebanding dengan penerimaan cukai dari industri.

"Saya mengimbau seluruh stakeholder di pusat dan daerah, para tokoh masyarakat, tokoh agama, dan seluruh masyarakat untuk berperan aktif mendukung upaya berhenti merokok dengan membantu menciptakan lingkungan yang sehat dan kondusif untuk berhenti merokok," pesan Menkes Budi memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2021 yang disiarkan Komnas Pengendalian Tembakau pada Senin (31/5/2021).

Guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Profesor Hasbullah Thabrany, mengatakan rokok sebenarnya pandemi yang tak jauh berbahaya dari COVID-19. Hanya saja banyak yang tidak menyadarinya karena dampak dari rokok tidak langsung terlihat.

"Pandemi merokok bisa menurunkan kualitas bangsa kita, menurunkan sistem kesehatan kita. banyak anak menjadi stunting karena orang tuanya perokok, banyak anak tidak produktif prestasinya tidak bagus karena uang jajan lebih banyak dipakai merokok daripada belanja nutrisi mencerdaskan," ungkap Prof Hasbullah.

"BPS menyampaikan bahwa belanja untuk rokok sudah lebih banyak dari beras. Sekarang makanan pokok kita beras atau rokok? Inilah pandemi luar biasa yang bisa kita selesaikan bersama-sama," pungkasnya.



Simak Video "WHO Minta Penggunaan Rokok Elektrik Dibatasi"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)