Selasa, 01 Jun 2021 15:30 WIB

Pro-Kontra

Pura-pura Sakit Biar Bolos Vs Pura-pura Sehat Maksain Kerja, Mana Lebih Buruk?

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Stressed exhausted woman sitting at office desk and working overtime, she is overloaded with work Pura-pura sakit Vs pura-pura sehat, sama-sama 'nggak sehat' (Foto: Getty Images/iStockphoto/cyano66)
Jakarta -

Cuplikan video seorang motivator tengah jadi perbincangan panas. Dalam penggalan video viral tersebut, sang 'coach' menyinggung sabotase bisnis oleh karyawan yang tidak masuk kerja dengan alasan sakit. Intinya, ia mempertanyakan apakah karyawan tersebut benar-benar sakit.

"Jadi biasanya kalau ada anak buah sakit, pertanyaan saya nomor satu adalah bisa bangun gak? Bisa. Bisa jalan enggak? Bisa. Bisa makan enggak? Bisa. Bisa naik motor? Bisa. Berarti bisa ke kantor," katanya.

Penggalan video yang sebenarnya tidak terlalu jelas konteksnya tersebut dibanjiri komentar miring di berbagai platform media sosial. Netizen menganggap, karyawan berhak istirahat ketika sedang tidak sehat. Pun, menentukan sakit atau tidaknya seseorang hanya dengan bisa jalan dan naik motor atau tidak, dinilai tidak tepat.

Praktisi kesehatan dari Siloam Hospital Lippo Village dr Vito A Damay, SpJP(K) sependapat bahwa kesehatan adalah prioritas utama. Pekerjaan yang baik, menurutnya harus memberi kesempatan untuk menjalankan pola hidup sehat.

"Kesehatan itu aset terbesar kita. Semua orang mau sehat. Percuma kerja siang-malam investasi sana-sini kalau nantinya harus digunakan untuk membayar ongkos berobat yang mungkin juga tidak akan membuat badan kita kembali sehat sempurna," tegasnya.

Terlalu memaksakan karyawan untuk masuk ketika sedang tidak sehat juga berisiko memicu fenomena presenteisme. Ini adalah kondisi saat seseorang masuk kerja, tetapi tidak produktif karena berbagai hal. Bisa karena kurang sehat, kehilangan motivasi, atau tidak fokus karena kelelahan.

Pada satu titik, kelelahan yang terakumulasi juga bisa bikin seseorang tumbang atau jatuh sakit. Selain jadi tidak produktif karena tidak bisa bekerja sama sekali pada akhirnya, juga bakal membebani perusahaan yang harus menanggung pengobatannya.

work life balance word cloud - handwriting on a napkin with a cup of coffeePura-pura Sakit Biar Bolos Vs Pura-pura Sehat Maksain Kerja, Mana Lebih Buruk? Foto: Ilustrasi/thinkstock

Yang memang 'nakal' juga ada sih

Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa kadang-kadang ada juga karyawan 'nakal' yang mengaku tidak sehat untuk cari enak sendiri. Biasanya, ini terjadi pada momen-momen tertentu seperti hari kejepit, yakni satu hari kerja yang diapit dua hari libur.

Dalam wawancara dengan detikcom, seorang dokter mengakui adanya kecenderungan kunjungan ke tempat praktik meningkat menjelang 'Harpitnas' alias Hari Kejepit Nasional. Umumnya mencari surat sakit agar tidak harus masuk di hari kejepit.

"Berdasarkan pengalaman selama ini, jawabnya iya banget. Biasanya jumlah pasien di poli akan meningkat. Dengan tujuan dapat surat sakit," ujar dokter umum dari RS Permata Depok, dr Kevin William Hutomo.

Beneran sakit atau pura-pura, itu soal lain. Tetapi banyaknya pekerja yang bolos pada suatu waktu mungkin bakal membebani pekerja lain yang harus menggantikannya. Atau yang sebenarnya sedang kurang sehat, jadi harus memaksakan diri masuk menggantikan temannya yang bolos. Hmmm...

Sebenarnya, mana sih yang lebih mensabotase teamwork? Pura-pura sakit biar bisa bolos lalu jadi beban buat teman-teman lainnya, atau pura-pura sehat maksain kerja lalu malah tumbang pada akhirnya? Bagikan pendapat di komentar.



Simak Video "Kasus Gangguan Kesehatan yang Diviralkan Efek Kecanduan Game"
[Gambas:Video 20detik]
(up/naf)