Jumat, 04 Jun 2021 07:30 WIB

Corona Nggak Kelar-kelar, India Beli Vaksin COVID-19 Belum Lolos Uji Klinis

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
MUMBAI, INDIA - MAY 27: A patient who has Covid-19 sits on his bed in an ICU ward at the government-run St. George hospital on May 27, 2021 in Mumbai, India. Indias prolonged and devastating wave of Covid-19 infections has gripped cities and overwhelmed health resources. (Photo by Fariha Farooqui/Getty Images) Foto: Getty Images/Fariha Farooqui
Jakarta -

Corona di India belum mereda, India bahkan membeli vaksin Corona yang belum lolos uji klinis, yaitu vaksin Biological-E, pada hari Kamis (3/5/2021). Sejauh ini, hanya 4,7 persen dari 950 juta populasi dewasa yang sudah diberikan vaksin Corona di India.

India menjadi negara terpadat kedua yang berjuang melawan gelombang kedua Corona. Ada 170 ribu orang tewas karena Corona di bulan April hingga Mei.

"Pemerintah akan membeli 300 juta dosis vaksin Corona dari perusahaan lokal Biological-E dan telah memberikan uang muka sebesar $ 205,6 juta," kata kementerian kesehatan, meskipun vaksin tersebut masih melalui uji klinis Fase III.

"Pembelian vaksin Corona Biological-E adalah upaya yang lebih luas dari pemerintah India untuk mendorong produsen vaksin asli dengan memberikan mereka dukungan dalam penelitian, pengembangan, serta dukungan keuangan," kata Kemenkes India dalam sebuah pernyataan dikutip dari Reuters.

Sebelum membeli vaksin Biological-E, India sudah memvaksinasi banyak warga dengan vaksin AstraZeneca yang diproduksi di Serum Institute of India. India juga menggunakan Covaxin besutan perusahaan lokal Bharat Biotech, sementara vaksin Sputnik V rencananya akan datang di pertengahan Juni.

Namun, persediaan stok vaksin menipis usai pemerintah membuka vaksinasi untuk semua orang dewasa bulan lalu. Pada akhirnya, beberapa pusat vaksinasi harus ditutup, dan hal ini memicu kritik dari Mahkamah Agung soal buruknya perencanaan vaksinasi India.

Kala pemerintah federal memberikan vaksin gratis kepada orang tua dan para pekerja 'frontliner', pemerintah negara bagian dan rumah sakit swasta memberikan dosis vaksin Corona kepada orang-orang dalam kelompok usia 18-45 tahun dengan harga tertentu.

"Kebijakan pemerintah pusat melakukan sendiri vaksinasi gratis untuk kelompok di bawah dua tahap pertama, dan menggantinya dengan vaksinasi berbayar adalah sewenang-wenang dan tidak rasional," kata Mahkamah Agung.

Minggu ini, India disebut dapat mengantongi 10 juta dosis vaksin Corona setiap hari, mulai bulan Juli dan Agustus. Jumlah dosis diperkirakan naik dari ketersediaan vaksin yang kini hanya di bawah tiga juta dosis.

Pembelian vaksin Biological-E menyusul tekanan untuk mempercepat vaksinasi. Sebab, beberapa negara lain sudah mulai melonggarkan pembatasan, ada rencana serupa yang akan dilakukan di beberapa wilayah India.

"Negara bagian barat Maharashtra, rumah bagi pusat keuangan Mumbai, berencana untuk mencabut sebagian besar pembatasan di 18 distrik bulan ini, berdasarkan ketersediaan tempat tidur oksigen dan tingkat infeksi," kata para pejabat.

Corona di India

India pada Kamis, mengumumkan 134.154 kasus baru selama 24 jam terakhir, turun dari puncak Corona India yang mencatat 414.188 kasus per hari di 7 Mei lalu. Total kasus Corona resmi yang dilaporkan sebanyak 28,4 juta, tertinggi kedua di dunia.

Sementara kasus kematian Corona tercatat sebanyak 2.887 dalam semalam, sehingga total kasusnya mencapai 337.989, menjadi negara dengan catatan korban COVID-19 tertinggi ketiga di dunia, setelah Amerika Serikat dan Brasil.



Simak Video "Indonesia Kantongi Lebih dari 141 Juta Dosis Vaksin COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)