Jumat, 04 Jun 2021 15:33 WIB

Malaysia Catat Banyak Anak Wafat saat Rekor Kematian Corona, Ada Apa?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Health workers wearing Personal Protective Equipment (PPE) carry a coffin during a funeral for a COVID-19 victim in Klang, Malaysia, Sunday, May 23, 2021. Malaysia unexpectedly imposed a one-month lockdown through June 7, spooked by a sharp rise in cases, more-infectious variants and weak public compliance with health measures. (AP Photo/Vincent Thian) Foto: AP/Vincent Thian
Jakarta -

Kematian Corona Malaysia terus mencetak rekor di atas 100 dua hari berturut-turut. Jumlah kasus kematian melonjak di usia anak-anak, yang sebelumnya amat jarang dilaporkan di gelombang pertama COVID-19.

"Malaysia mencatat kematian tiga anak berusia di bawah lima tahun akibat virus Corona dalam lima bulan pertama tahun ini, jumlah yang sama seperti yang dilaporkan sepanjang tahun 2020," menurut direktur jenderal Kementerian Kesehatan Noor Hisham Abdullah, dikutip dari Straits Times.

Catatan Kemenkes setempat menunjukkan ada 27 anak yang terpapar COVID-19. Termasuk 19 kasus di bawah usia lima tahun yang dirawat di ICU, rentang waktu Januari hingga Mei, naik delapan kasus dari tahun lalu.

"Kementerian Kesehatan berharap semua pihak, terutama orang tua dan wali, berperan penting dalam melindungi mereka yang memiliki kekebalan rendah, seperti bayi dan anak-anak, dari COVID-19," kata Tan Sri Dr Noor Hisham dalam sebuah pernyataan.

Namun, ia tidak mengatakan berapa banyak anak yang telah dites COVID-19, begitu juga dengan kemungkinan apakah pemerintah akan memperbanyak tes Corona di usia anak.

Apakah peningkatan kasus karena varian baru Corona?

Lockdown total diterapkan di Malaysia selama dua pekan ke depan, terhitung sejak 1 Juni hingga 14 Juni. Aturan diberlakukan usai Malaysia berturut-turut mencatat rekor kasus dan kematian COVID-19.

Pemerintah memperingatkan kemungkinan wabah Corona yang lebih buruk dari sebelumnya, terkait dengan varian baru yang lebih menular. Diketahui, Malaysia sudah mencatat kasus varian Delta hingga varian Alpha.

Seperti diketahui, varian Corona Delta yang pertama kali ditemukan di India disebut sangat menular dan menyebar cepat. Varian ini juga menjadi pemicu gelombang kedua COVID-19 ganas di India.

"Varian Delta atau strain B.1.617.2 lebih menular daripada varian Alpha yang pertama kali terdeteksi di Kent, Inggris," kata studi oleh para ilmuwan dari Indian SARS COV2 Genomic Consortia dan National Center for Disease Control.

"Varian Delta, pada kenyataannya, 50 persen lebih menular daripada strain Alpha," sambung penelitian tersebut, dikutip dari NDTV.



Simak Video "Relawan Pemakaman Malaysia Ketar-ketir Lihat Lonjakan COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/fds)