Sabtu, 05 Jun 2021 14:29 WIB

RS Penuh, Kesatria Corona di India Meninggal karena COVID-19

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
People perform rituals next to a funeral pyre for a family member who died of COVID-19 at a ground that has been converted into a crematorium for mass cremation of COVID-19 victims in New Delhi, India, Saturday, April 24, 2021. Delhi has been cremating so many bodies of coronavirus victims that authorities are getting requests to start cutting down trees in city parks, as a second record surge has brought Indias tattered healthcare system to its knees. (AP Photo/Altaf Qadri) COVID-19 di India. (Foto: AP/Altaf Qadri)
Jakarta -

Seorang pria yang telah bekerja mengkremasi 1.300 jenazah pasien Corona di India, dilaporkan meninggal dunia akibat terinfeksi virus tersebut.

Pria bernama Chandan Nimje itu merupakan pensiunan pegawai pemerintah yang bertugas secara sukarela di King Cobra Youth Force (KCYF), untuk mengkremasi korban COVID-19. Hal itu yang membuatnya dijuluki sebagai 'Kesatria Corona', karena berani mengurus jenazah saat pihak keluarga menolak untuk mengurusnya.

Diketahui, Nimje tertular virus Corona usai melakukan vaksinasi dosis pertamanya. Ia mengalami demam ringan, disusul dengan dua putra, saudara perempuannya, serta istrinya yang juga mulai menunjukkan gejala COVID-19.

Saat terpapar, Nimje tidak bisa mendapatkan perawatan dan tempat tidur yang layak di rumah sakit. Hingga akhirnya kondisinya terus memburuk dan akhirnya meninggal dunia pada 26 Mei 2021 lalu.

Nimje pun mendapatkan penghargaan dari Wali Kota Nagpur, India. Itu diberikan sebagai penghormatan atas keberaniannya selama 18 bulan mengurus pada pasien COVID-19.

Ketika Nijme sakit, teman kerjanya yaitu Arvind Rataudi mengatakan sudah mendatangi banyak orang untuk meminta bantuan. Mulai dari komisaris hingga pejabat tinggi di Nagpur Municipal.

"Kami mendekati semua orang, tidak hanya untuk meminta bantuan dari segi finansial, tetapi untuk tempat tidur dan obat-obatan. Tetapi, tidak ada yang merespon," katanya yang dikutip dari Mirror UK, Sabtu (5/6/2021).

Melihat kasus temannya, Rataudi merasa pemerintah telah gagal mengatasi pandemi.

"Jika kami dan ribuan aktivis kami gagal mendapatkan bantuan tepat waktu seperti pria ini, bayangkan penderitaan warga biasa lainnya karena sikap otoritas pemerintah seperti itu," pungkasnya.



Simak Video "Satgas soal Laporan Kasus Covid-19 di RSCM: Ada Sedikit Peningkatan"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/fds)