Rabu, 09 Jun 2021 06:39 WIB

Round Up

Teka-teki Pengajuan Paten Vaksin Corona Sebelum WHO Tetapkan Pandemi

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Coronavirus. COVID-19. Copy space. 3D Render Foto: Getty Images/BlackJack3D
Jakarta -

Seorang ilmuwan militer di China yang berhubungan erat dengan Amerika Serikat dituding telah mengajukan paten vaksin Corona pada Februari 2020. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru menetapkan status pandemi sebulan kemudian.

Adalah Yusen Zhou, ilmuwan yang bekerja untuk Tentara Pembebasan Rakyat atau People's Liberation Army (PLA) yang mengerjakan berkas-berkas pengajuan paten tersebut, berselang 5 pekan sejak kasus pertama terkonfirmasi di Wuhan.

Belakangan, Zhou dikabarkan meninggal pada Mei 2020 dengan kondisi yang misterius. Hanya satu surat kabar di China yang mengabarkannya.

Menurut The Australian, Zhou yang menerima bantuan dari National Institutes of Health untuk aktivitas tersebut, cukup dekat dengan Wuhan Institute of Virology (WIV), termasuk dengan Shi Zhengli, ilmuwan yang terkenal sebagai peneliti kelelawar.

Laporan ini memperkuat spekulasi tentang teori kebocoran lab, yang menyebut virus Corona penyebab COVID, SARS-CoV-2 tidak muncul secara alamiah melainkan bocor dari laboratorium.

Sebelumnya, spekulasi tersebut mencuat lagi setelah intelijen Amerika Serikat mengungkap ada tiga staf laboratorium di Wuhan yang berobat ke rumah sakit pada November 2019. Mereka mengalami gejala mirip COVID-19.



Simak Video "6 Vaksin Corona yang Sudah Kantongi Restu dari WHO"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)