Kamis, 10 Jun 2021 11:22 WIB

Studi Ini Teliti Efek Samping Vaksin AstraZeneca, Bagaimana Hasilnya?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
ROME, ITALY - MARCH 05: A healthcare worker of the Italian Army prepares doses of the AstraZeneca COVID-19 vaccine, as part of COVID-19 vaccinations plan for the military personnel, on March 5, 2021 in Rome, Italy. The Italian government blocked the shipment of 250,000 doses of the Oxford/AstraZeneca vaccine developed by the Anglo-Swedish group and produced in a factory near Rome. This is the first time that a European country has applied new rules to control vaccine exports, adopted in January. (Photo by Antonio Masiello/Getty Images) Vaksin COVID-19 AstraZeneca. (Foto: Getty Images/Antonio Masiello)
Jakarta -

Sebuah studi tentang efek samping pasca vaksinasi COVID-19 dengan AstraZeneca di Skotlandia menemukan bahwa sebagian besar tidak berbahaya. Ini juga tidak ada kaitannya dengan penggumpalan darah di otak.

Kelompok peneliti yang dipimpin oleh Profesor Aziz Sheikh dari Universitas Edinburgh menemukan adanya satu kasus tambahan kasus Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP) per 100.000 orang. Hal ini terjadi usai menerima dosis pertama vaksin AstraZeneca.

Dikutip dari Channel News Asia, ITP merupakan penyakit yang menyebabkan tubuh mudah memar atau berdarah. Penyebabnya karena rendahnya jumlah sel darah merah (trombosis) yang ada di dalam tubuh.

Namun, para peneliti mengungkapkan bahwa ITP ini bisa diobati dan tidak menyebabkan kematian di antara kohort (sekelompok subjek yang memiliki karakteristik yang sama) yang dipantau untuk penelitian ini, yang mencangkup 1,7 juta penerima vaksin AstraZeneca.

Hubungan antara vaksin AstraZeneca dan dampaknya

Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine pada Rabu (9/6/2021) kemarin, menunjukkan tidak ada hubungan yang jelas pembekuan atau pendarahan arteri akibat vaksinasi AstraZeneca.

Selain itu, dalam analisis data menunjukkan pembekuan darah vena di otak yang berpotensi mematikan yang dikenal dengan Cerebral Venous Sinus Thrombosis (CVTS), yang menimbulkan kekhawatiran di Eropa khususnya Skotlandia, tidak berkaitan dengan vaksin AstraZeneca.

Namun, Aziz menggarisbawahi bahwa kelangkaan kasus CVST membuat sampel data di Skotlandia mungkin terlalu kecil untuk menarik kesimpulan apapun. Hanya saja, ia terus mengingatkan bahwa vaksinasi memiliki lebih banyak manfaat daripada risikonya.

"Ini adalah data yang meyakinkan, dan kami sangat mendorong orang-orang untuk tidak menolak undangan vaksinasi COVID-19. Maju terus," kata Aziz yang dikutip dari CNA, Kamis (10/6/2021).

Sebelumnya, kasus jumlah trombosit yang rendah dalam kombinasi dengan pembekuan darah yang dilaporkan dalam beberapa minggu setelah menerima vaksin AstraZeneca menyebabkan pembatasan penggunaan vaksin tersebut.



Simak Video "Jokowi Minta Vaksinasi Corona Dikebut, Target 1 Juta per Hari"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)