Kamis, 10 Jun 2021 15:26 WIB

UPDATED

Corona di Kudus 'Menggila' Naik 7.594 Persen, Ternyata Ini Penyebabnya

Vidya Pinandhita - detikHealth
Sejumlah pasien COVID-19 naik ke bus sekolah saat akan dipindahkan dari Kudus di Jawa Tengah, Senin (7/6/21). Sebanyak 23 pasien COVID-19 yang terdiri Aparatur Sipil Negara dan keluarganya di Kudus dipindahkan ke tempat karantina terpusat di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah guna mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik serta mencegah penularan COVID-19 yang lebih luas. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/wsj. Ilustrasi (Foto: ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHO)
Jakarta -

Kasus positif COVID-19 di Kudus, Jawa Tengah meningkat drastis. Satgas COVID-19 pada Rabu (9/6/2021) menyebut total kasus di Kudus dalam 3 minggu terakhir, tepatnya pasca Lebaran 2021, meningkat hingga 7.594 persen. Angka ini menjadikan Kudus kota dengan lonjakan kasus tertinggi di RI imbas Lebaran 2021.

Bupati Kudus, HM Hartopo menyebut, faktor utama lonjakan drastis Corona di Kudus adalah sikap abai masyarakat pada protokol kesehatan setelah disuntik vaksin COVID-19.

Ia menekankan, vaksin tak sepenuhnya mencegah infeksi sehingga kerumunan dan aktivitas tatap muka tetap bisa menyebabkan infeksi COVID-19.

"Sebetulnya banyak faktor. Salah satunya adalah vaksinasi. Vaksinasi ini menjadikan masyarakat abai protokol kesehatan tidak disiplin karena menganggap setelah divaksin masyarakat anti virus. Padahal vaksinasi hanya meningkatkan antibodi supaya seandainya terpapar, tidak ada gejala berat," terangnya dalam diskusi daring, Kamis (10/6/2021).

Faktor penyebab lainnya yakni tradisi masyarakat Kudus pasca Lebaran, yakni Anjangsana. Ia menyayangkan, masyarakat abai soal prokes saat mengunjungi kerabat dan saling bertatap muka.

"Anjangsana tradisi di Kudus ini sudah biasa silaturahmi makan-makan atau suguhan. Dengan adanya silaturahmi, orang tua ke sahabat ke saudara ini melepas masker sambil menikmati hidangan yang ada sambil ngobrol. Ini potensi yang amat luar biasa," imbuh Hartopo.

Hartopo menjelaskan, tempat wisata diwajibkan hanya menerima maksimal 30 persen pengunjung. Namun, pariwisata membandel, walhasil kini pihaknya harus menutup titik-titik wisata tersebut.

Pemerintah Kudus juga memperketat pembatasan keluar-masuk kota. Pengecekan dilakukan di titik-titik check point untuk menyaring pendatang yang boleh dan tidak boleh masuk Kudus.

"Kalau tujuannya ke Kudus dan tidak urgent, akan kita putar balik. Tapi kalau memang ada kepentingan mungkin bekerja, tugas ke Kudus, tentunya kita bolehkan masuk Kudus dengan menunjukkan hasil swab rapid antigen. Artinya, bebas COVID-19 yang masih aktif 1x24 jam," pungkas Hartopo.



Simak Video "Pfizer Uji Klinis Vaksin COVID-19 untuk Anak Usia 5-11 Tahun"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/naf)