Selasa, 15 Jun 2021 10:49 WIB

Virus Corona Varian Delta Kembali Bermutasi, Jadi 'Delta Plus'

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Tenaga kesehatan melakukan tes swab antigen kepada warga di Gg Bahagia, Kel Gerendeng, Kec Karawaci, Tangerang. Upaya ini sebagai tracing atau pelacakan untuk menekan penyebaran COVID-19. Foto: Andhika Prasetia
Jakarta -

Pada bulan Mei 2021, WHO menyatakan strain B1617.2 sebagai varian 'Delta' dari SARS-CoV-2. Varian itu diidentifikasi sebagai salah satu penyebab gelombang kedua infeksi virus corona yang menghantam India di awal tahun ini.

Saat ini ilmuwan mendapati virus corona varian Delta telah bermutasi dan membentuk varian Delta Plus AY.1. Data awal menunjukkan varian Delta Plus resisten terhadap pengobatan antobodi monoklonal, sebuah metode perawatan pasien Corona yang disahkan oleh Central Drugs Standard Control Organization (CDSCO).

Seorang ilmuwan yang mendalami bidang genome sequencing, Bani Jolly, mengatakan sejumlah kecil sekuens Delta B1617.2 memiliki mutasi lonjakan K4176N yang ditemukan di laboratorium GISAID.

"Sekuens ini telah diidentifikasi dalam genom 10 negara. Urutan baru-baru ini telah ditetapkan sebagai garis keturunan AY.1 (B1617.2.1), subgaris keturunan varian Delta, karena kekhawatiran tentang K417N adalah salah satu mutasi yang ditemukan pada varian Beta (B1351)," kata Jolly dikutip dari India Today.

Tak Boleh Lagi Pakai Nama Negara! Ini Daftar Nama Baru Varian CoronaTak Boleh Lagi Pakai Nama Negara! Ini Daftar Nama Baru Varian Corona Foto: infografis detikHealth

Meski demikian para ilmuwan mengatakan tidak ada alasan untuk khawatir karena prevalensi varian Delta Plus ini pun masih tergolong rendah.
Public Health England, dalam laporan terbarunya tentang varian virus Corona, mengatakan varian Delta Plus diidentifikasi dalam enam genom dari India pada 7 Juni. Badan kesehatan itu telah mengkonfirmasi keberadaan total 63 genom varian Delta dengan mutasi K417N.

"Melihat kluster besar (T95I), sepertinya AY.1 telah muncul secara independen beberapa kali dan bisa lebih umum daripada yang diamati di negara-negara dengan pengawasan genom terbatas," kata Jolly.

Terbentuknya varian Delta plus merupakan hasil mutasi pada protein spike SARS-COV-2. Ini adalah protein spike yang sama yang memungkinkan virus masuk dan menginfeksi sel manusia.



Simak Video "Benarkah Virus Corona Varian Delta Bisa Menular dengan Berpapasan?"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)