Kamis, 17 Jun 2021 09:40 WIB

Vaksin Nusantara 'dr Terawan' Ngotot Ingin Uji Klinis, BPOM Angkat Bicara

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Uji klinis vaksin COVID-19 Sinovac dari China untuk fase ke 1-2 full report sudah didapatkan BPOM. Namun, masih ada data yang kurang untuk fase ketiga. Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Eks Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mendesak agar uji klinis vaksin Nusantara bisa lanjut ke fase ketiga. Ia bahkan mengklaim vaksinnya bisa menjadi kunci Indonesia segera mengakhiri pandemi COVID-19.

Sementara, Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) sudah tak ingin memberikan komentar lebih lanjut terkait uji vaksin Nusantara. Hal ini dikarenakan menurutnya penelitian vaksin Nusantara sudah bukan untuk diedarkan hingga perlu izin dari BPOM.

Dalam Nota Kesepahaman bersama Kementerian Kesehatan, BPOM, dan TNI AD, sebelumnya disepakati bersama vaksin Nusantara akhirnya hanya untuk kepentingan riset dan berbasis layanan saja. Penny kembali menegaskan status vaksin Nusantara ini menanggapi protes eks Menkes Terawan yang menyayangkan uji klinis penelitiannya tidak bisa berlanjut.

"Sudah bukan melalui jalur kami badan POM. Karena bukan produk yang akan digunakan massal, diproduksi massal. Tapi itu pelayanan individual, jadi bukan melalui badan POM," kata Penny, dikutip dari CNNIndonesia Kamis (17/6/2021).

"Karena itu kan pelayanan, ya ke Balitbangkes di Kemenkes," sambungnya.

Perlu diketahui, BPOM tidak bisa memberikan izin kelanjutan uji klinis vaksin Nusantara lantaran penelitian disebut tak sesuai dengan kaidah klinis, dan tak kunjung ada perbaikan dari para peneliti. Peneliti vaksin Nusantara juga diketahui tidak melakukan uji klinis pada hewan terlebih dulu, padahal hal tersebut menjadi syarat uji klinis pengembangan vaksin COVID-19.

Izin BPOM yang tak kunjung turun kembali dipersoalkan dalam rapat bersama Komisi VII DPR, para anggota Komisi VII mendukung vaksin Nusantara melanjutkan uji klinis ke tahap ketiga usai eks Menkes Terawan membeberkan sejumlah klaim vaksin Nusantara. Termasuk bisa melawan semua varian baru Corona hingga aman digunakan pada usia anak di bawah 18 tahun.

"Memang di literatur-literatur paling lama dari kejadian SARS dulu di China, Beijing, dan sebagainya, sel T-nya itu masih ada sampai 6 tahun dan itulah yang riset-riset di dunia mengemukakan muncul lah hipotesis di mana dendritik cell vaccine ini dianggap sebagai the beginning of the end, yang memulai untuk mengakhiri cancer maupun COVID-19," beber Terawan dalam rapat bersama Komisi VII DPR RI, Rabu (16/6/2021)

"Kebetulan kita membangunnya, apakah tidak boleh kita memulai duluan? Iya saya serahkan jawaban ke semua orang, apakah Indonesia tidak boleh memulai duluan? Saya tidak tahu untuk jawaban itu," kata Terawan.

TERUSKAN MEMBACA, KLIK DI SINI



Simak Video "Klaim Terawan Vaksin Nusantara Diakui Dunia Dibantah Peneliti"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)