Kamis, 17 Jun 2021 17:45 WIB

Corona RI Tembus 12 Ribu, Ini Saran Pakar Agar Tak Kolaps 2-4 Pekan Lagi

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Sejumlah kendaraan ambulans dan bus sekolah yang membawa pasien COVID-19 antre untuk masuk kawasan Rumah Sakit Darurat  COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet, Jakarta, Kamis (10/6). Foto: Pradita Utama
Topik Hangat Awas Corona Melonjak!
Jakarta -

Kasus baru Corona melonjak bertambah 12 ribu kasus per hari ini. Prediksi kolaps bak depan mata, jika tak ada aturan tegas yang mengawal ketatnya protokol kesehatan di masyarakat.

Hal tersebut diutarakan Kabid Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Dr Masdalina Pane. Risiko kolap mengintau dua hingga empat pekan mendatang jika tracing, kunci pengendalian utama COVID-19 tak kunjung dijalankan dengan baik.

Jika kolaps benar terjadi, pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menggambarkan akan banyak masyarakat yang akhirnya panik massal imbas lonjakan kasus kematian COVID-19 yang tak tertangani sebelum dirawat di RS. Bukan mustahil, Indonesia pun akan kekurangan tenaga kesehatan dan alat kesehatan penting seperti ventilator.

"Bagaimana supaya tidak terjadi kolaps? Iya harus ada upaya mencegah dari sisi inputnya, sumber di masyarakat, bicara masyarakat ini ya termasuk yang perkantoran, itu kan bagian dari masyarakat," kata Dicky kepada detikcom Kamis (17/6/2021).

"Perkantoran mau BUMN, pemerintah, swasta, mau pabrik kek, dan rumah-rumah pemukiman itu harus dideteksi awal, harus ada yang namanya active cases finding, penemuan kasus secara aktif, sehingga bisa dideteksi awal kasus-kasus infeksi ini termasuk orang-orang yang berisiko ya," sambung Dicky.

Gencar membangun RS Darurat COVID-19

Dicky menilai penting untuk membangun sejumlah fasilitas kesehatan untuk isolasi dan karantina sebelum dibawa ke RS rujukan jika mengalami gejala COVID-19 berat. Salah satunya seperti membangun rumah sakit darurat COVID-19.

Jika tahapannya jelas, kata Dicky, beberapa rumah sakit besar bisa khusus menangani pasien kritis COVID-19 sehingga risiko kolaps terminimalisir. Ia mengingatkan pasien yang terpapar COVID-19 untuk tak seluruhnya dibawa ke RS rujukan COVID-19 jika hanya mengeluhkan gejala COVID-19 ringan hingga sedang.

Dicky menilai perlu adanya perawatan pasien Corona yang berjenjang. Meski diakuinya di beberapa wilayah sudah tersedia, ia ingin hal demikian terus dimasifkan.

"Sehingga mereka bisa segera ditangani sejak awal di rumah, dan dilakukan isolasi karantina, kemudian juga dibuat penguatan sistem rujukan jadi jangan sampai dikit-dikit ya ke rumah sakit," bebernya.

"Jadi harus ada tahapan rujukan dan yang jelas saat ini sebetulnya ada tapi bisa kolaps juga dan itu harus dibuat sistem yang jauh lebih sederhana tapi efektif, berjenjang, kalau sakit ya ada sebelum ke puskesmas atau di level puskesmas ada semacam fasilitas, contohnya rumah sakit daruratnya," kata dia.

Fasilitas COVID-19 berjenjang

"Kemudian kalau tidak bisa, gejalanya menengah ya rujuk ke rumah sakit tipe yang D-nya kemudian nanti beranjak, sehingga rumah sakit besar seperti RSCM ya Hasan Sadikin, itu hanya untuk yang benar-benar serius jadi mereka nggak menangani yang ringan yang sedang jangan," tegasnya.

"Karena itu berbahaya, harus dibuat sistem seperti itu," pungkasnya.



Simak Video "Riset Eijkman Ungkap 3 Gejala Umum COVID-19 yang Ditemukan Pada Anak"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)
Topik Hangat Awas Corona Melonjak!