Senin, 21 Jun 2021 09:00 WIB

Gas-Rem Tidak Efektif, Pakar Sarankan Tegas Saja: Lockdown Regional!

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Kasus positif COVID-19 di ibu kota disebut kini alami perlambatan yang signifikan. Hal itu beri semangat baru bahwa Indonesia dapat bangkit lawan Corona. Foto: Antara Foto
Jakarta -

Corona tak kunjung mereda, penambahan kasus Corona menyentuh angka 13 ribu. Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) Hermawan Saputra Hermawan menilai situasi COVID-19 usai 15 bulan berjalan tak kunjung terkendali di tengah penanganan Corona yang tak efektif.

"Rem, gas, rem, gas, rem dan gas itu adalah kebijakan yang terkatung-katung yang hanya membuat kita menunda bom waktu saja karena tidak mampu memutus mata rantai COV"ID-19," tegas Hermawan dalam diskusi bersama CISDI, Minggu (20/6/2021).

Ia menyoroti PPKM yang kini diterapkan hanya untuk melandaikan pandemi Corona, tidak untuk memutus penularan COVID-19 di masyarakat. Pemerintah, disebutnya kurang tegas dalam memprioritaskan salah satu aspek di antara ekonomi dan kesehatan.

Tak hanya soal kebijakan, vaksinasi Corona disebut Hermawan bukan menjadi solusi utama pandemi Corona lantas berakhir. Pasalnya, cakupan vaksinasi saja belum bisa mencapai 1 juta per harinya, jika hanya mengandalkan vaksinasi COVID-19 akan memakan waktu lama untuk menuntaskan pandemi saat kasus Corona juga terus melonjak.

Belajar dari setiap negara dengan lonjakan kasus COVID-19, strategi yang kemudian berhasil menurunkan hingga memutus penularan COVID-19 ialah lockdown. IAKMI mengusulkan pemerintah berani menerapkan lockdown regional.

"Pemerintah harus berani radikal opsinya cuma dua, PSBB nasional pada bentuk semula atau pun lockdown regional, terbatas pada pulau besar seperti pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dilakukan secara berkala," katanya.

"Usul yang paling radikal tentu lockdown regional ya, artinya ini bentuk paling logis," tuturnya.

Indonesia masih gelombang pertama

Hermawan menegaskan kasus COVID-19 di Indonesia masih di gelombang pertama. Wabah Corona di RI dinilainya tak kunjung mencapai puncak lantaran angka positivity rate tak pernah berada di bawah 10 persen.

Sementara indikator untuk menentukan gelombang baru COVID-19 adalah positivity rate sudah lebih dulu di bawah standar WHO yaitu 5 persen. Artinya, penularan Corona di Indonesia masih terus tinggi.

Bahkan, kondisi under reporting kasus COVID-19 ditegaskan Hermawan sulit menggambarkan situasi Corona yang sebenarnya terjadi kini.

"Sesungguhnya kita masih di gelombang pertama karena indikator positivity rate kita masih di atas 10 persen, mortality rate kita masih di atas 5 persen dan juga insiden rate angka kejadian harian kita masih ribuan bahkan puluhan ribu di atas 10 ribu," kata dia.

"Semua indikator menunjukkan kita masih di gelombang pertama, masih jauh dari kata terkendali,"pungkasnya.



Simak Video "Daftar Negara yang Larang Masuk Penerbangan dari Afrika"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)