Sabtu, 26 Jun 2021 14:00 WIB

Ahli Khawatirkan Infeksi Jamur Hijau-Varian Delta, Risiko Kematian 3X Lipat

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
MUMBAI, INDIA - MAY 27: A patient who has Covid-19 sits on his bed in an ICU ward at the government-run St. George hospital on May 27, 2021 in Mumbai, India. Indias prolonged and devastating wave of Covid-19 infections has gripped cities and overwhelmed health resources. (Photo by Fariha Farooqui/Getty Images) Ancaman infeksi jamur hijau di tengah pandemi COVID-19 di India. (Foto: Getty Images/Fariha Farooqui)
Jakarta -

Para ilmuwan memperingatkan bahwa infeksi jamur hijau yang belum lama terdeteksi ini berkaitan dengan varian Delta, yang disebut tiga kali berisiko menyebabkan kematian. Kasus pertama infeksi jamur hijau atau aspergillus ini terdeteksi di India pada minggu lalu.

Tetapi, para ahli khawatir banyak kasus infeksi jamur ini yang tidak terdeteksi. Para ilmuwan di Woon Chong dari Albany Medical Center di Negara Bagian New York menemukan bahwa aspergillus ini ditemukan pada 13,5 persen pasien, dengan infeksi COVID-19 parah yang dirawat di rumah sakit.

Dikutip dari The Sun, para ahli mengamati 19 penelitian di seluruh dunia. Mereka mendeteksi 1.421 pasien dengan infeksi jamur aspergillus atau aspergilosis paru berkaitan dengan virus Corona. Kondisi ini juga bisa disebut dengan istilah CAPA.

CAPA merupakan infeksi paru yang bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan benar. Ini bisa didiagnosis menggunakan sampel antigen paru dan saluran napas.

Para ahli mengatakan hampir setiap pasien yang sakit kritis akibat COVID-19 dan CAPA harus menggunakan ventilator. Tetapi, mereka juga menyoroti sebanyak 12,5 persen pasien itu juga menderita penyakit lain, seperti leukemia.

Artinya, orang dengan riwayat penyakit sebelumnya lebih berisiko mengalami masalah kesehatan ini. Meski begitu, para ahli tidak memberikan indikasi pasien CAPA bisa terlindungi dari COVID-19 atau tidak pasca divaksinasi.

Risiko kematian CAPA lebih tinggi dari COVID-19

Berdasarkan tinjauan para ahli di Institute of Medical Education and Research, Chandigarh, India, risiko kematian akibat CAPA 2,9 kali lebih tinggi dibandingkan pasien dengan infeksi COVID-19 yang parah.

Melihat itu, pakar aspergillosis di Universitas Manchester dan Kepala Eksekutif Dana Aksi Global untuk Infeksi Jamur, Prof David Denning, khawatir bahwa banyak kasus jamur hijau yang mungkin tidak terdeteksi di India. Menurutnya, hal ini cukup mengkhawatirkan.

"Kesadaran mengenai ancaman CAPA ini sudah disorot para ahli sejak tahun 2020 lalu. Tapi, nampaknya tidak ada kesiapan untuk mendiagnosisnya sejak pandemi Corona kian memburuk di India," kata Profesor David.

"Mengingat meluasnya penggunaan kortikosteroid dan sifat jamur hijau yang yang ada di mana-mana, mungkin ada puluhan ribu kasus. Aspergillosis yang tidak diobati hampir selalu berakibat fatal," lanjutnya.

Selain itu, berdasarkan tinjauan para ahli di Institute of Medical Education mengungkapkan pasien Corona dengan CAPA biasanya akan menjalani perawatan di RS lebih lama.

"Pasien dengan CAPA juga memiliki risiko kematian yang lebih tinggi, sehingga diagnosis dini dengan terapi yang cepat harus dipastikan," pungkasnya.



Simak Video "Keterkaitan COVID-19 dengan Ledakan Kasus 'Jamur Hitam' di India"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)