Minggu, 27 Jun 2021 13:41 WIB

Beredar Surat BPOM Setujui Vaksin COVID-19 'Sinovac' untuk Anak 12-17 Tahun

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Warga antri untuk mendapatkan vaksin Sinovac yang disediakan oleh mobil keliling di depan pasar barang antik Ngarsopuro, Solo, Jawa Tengah, Selasa (15/6). Vaksin warga khusus untuk umur 50 tahun keatas dengan membawa KTP yang diterbitkan oleh Pemerintah Kota Solo. Dalam pelayanan vaksin tersebut dibatasi hingga 100 pemohon setiap harinya dengan lokasi yang berpindah-pindah hingga 30 Juni mendatang. Foto: Agung Mardika
Jakarta -

Beredar surat persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk memvaksinasi anak usia 12 hingga 17 tahun dengan jenis vaksin COVID-19, jenis vaksin yang diproduksi PT Bio Farma dari bulk vaksin buatan Sinovac. Adapun salah satu yang menjadi pertimbangan BPOM adalah hasil uji klinis Fase I dan Fase II vaksin Sinovac rentang usia anak.

"Dari data keamanan uji klinik fase I dan fase II, profil AE Sistemik berupa fever pada populasi 12-17 tahun tidak dilaporkan dibandingkan dengan usia 3-5 tahun dan 6-11 tahun," jelas BPOM, dikutip dari edaran hasil evaluasi uji klinis yang diterima detikcom Minggu (27/6/2021).

"Imunogenisitas dan keamanan pada populasi remaja 12-17 tahun diperkuat dengan data hasil uji klinik pada populasi dewasa karena maturasi sistem imun pada remaja sesuai dengan dewasa," sambung surat tersebut.

Meski begitu, dalam edaran tersebut dijelaskan usia anak di luar 12-17 tahun belum bisa divaksinasi COVID-19 lantaran jumlah subjek pada populasi di luar usia tersebut masih terbatas. Karenanya, belum bisa disimpulkan apakah memvaksinasi Corona di luar 12-17 tahun adalah aman.

Poin lainnya yang disoroti BPOM untuk memberikan izin vaksin Corona usia anak 12-17 tahun adalah meningkatnya kasus COVID-19 anak. Angka kematian Corona anak disebut BPOM mencapai 30 persen di rentang usia 10-18 tahun.

"Data epidemiologi COVID-19 di Indonesia menunjukkan mortalitas tinggi pada usia 10-18 tahun sebesar 30 persen," tulis surat tersebut.

Sementara, Dra Togi Junice Hutadjulu Apt MHA Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif tak menjawab permintaan konfirmasi detikcom hingga berita ini diturunkan. Begitu juga dengan juru bicara vaksinasi COVID-19 BPOM Lucia Rizka Andalusia dan Kepala BPOM Penny K Lukito.

Dihubungi terpisah, juru bicara vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan pun mengarahkan konfirmasi terkait kepada pihak BPOM.



Simak Video "Hasil Uji Coba Akhir Vaksin CureVac Kurang Ampuh Lawan COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)