Selasa, 29 Jun 2021 14:30 WIB

dr Raisa Bagikan Tips Agar Anak Mau Diswab PCR Saat Bergejala Corona

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
dokter Reisa Broto Asmoro saat berkunjung ke kantor Kementerian Komunikasi dan Informasi, Medan Merdeka Barat, Jakarta, Senin, 2 November 2020. Foto: dok. KPCPEN
Jakarta -

Virus Corona bisa menyerang siapa saja, termasuk anak-anak. Untuk mengetahui sang buah hati sedang terinfeksi atau tidak, maka perlu dilakukan tes COVID-19 menggunakan tes PCR (polymerase chain reaction).

Namun, masalahnya anak-anak cenderung mudah merasa khawatir ketika hendak melakukan tes COVID-19. Pasalnya, alat swab yang dimasukkan ke dalam rongga hidung dan mulut tampak seperti menyakitkan.

"Kadang-kadang memang pemeriksaan ini menakutkan bagi anak, karena mungkin anak belum pernah melakukan, jadi yang pertama kali. Jadi wajar psikis anak harus diperhatikan, makanya dikasih tahu dulu prosesnya nanti seperti apa," kata dr Reisa Broto Asmoro, juru bicara pemerintah untuk COVID-19, dalam diskusi sehat bersama radio kesehatan, Senin (28/6/2021).

Menurut dr Reisa, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan para orang tua ketika hendak mengajak anaknya melakukan tes COVID-19. Salah satunya dengan memberikan pemahaman tatalaksana pemeriksaan dengan bahasa sederhana sesuai usia anak.

"Jangan tiba-tiba anak dibawa ke tempat pemeriksaan atau labnya, kemudian langsung di didudukan, dipegang kepalanya, dan langsung diswab, pasti anaknya kaget, ini saya mau diapain," ujarnya.

Misalnya, kata dr Reisa, dengan menciptakan istilah-istilah sederhana yang ramah didengar oleh anak, seperti alat swab menjadi 'cotton bud panjang'. Kemudian dijelaskan fungsi tes ini untuk mengetahui apakah ada virus atau tidak di tubuh mereka, yang terpenting jangan sampai membuat anak menjadi panik.

"Kalau saya suka kasih tahu dulu ke anak-anak itu (alat swab) istilahnya cotton bud panjang. Nanti dimasukkan cotton bud ke hidung, nanti cuma diputar-putar di hidung, geli-geli sedikit, sakit-sakit sedikit saja, kemudian nanti segera ditarik," jelas dr Reisa.

"Nanti di lubang satunya sama di mulut, habis itu sudah deh. Habis itu kita periksa ada virusnya nggak nih di tubuh kamu," tambahnya.

Kapan anak harus dites COVID-19?

dr Reisa menjelaskan anak-anak harus segera dites COVID-19 ketika mengalami gejala Corona, seperti batuk, demam, diare, atau kehilangan indra penciuman dan perasa. Namun, apabila mereka tidak mengalami gejala, tes COVID-19 bisa dilakukan ketika ada orang terdekat yang terkonfirmasi positif Corona.

"Kalau misalnya dia nggak bergejala, mungkin orang di sekitarnya dulu yang bisa dilakukan pemeriksaan. Kalau orang sekitarnya ternyata positif, maka anaknya juga harus dilakukan tes PCR," tuturnya.



Simak Video "Faktor Penunjang Agar Target 100 Juta Suntikan Tercapai Akhir Agustus"
[Gambas:Video 20detik]
(ryh/kna)