Jumat, 02 Jul 2021 05:00 WIB

WHO Tuding Kerumunan Euro 2020 Picu Gelombang Baru COVID-19

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
BUDAPEST, HUNGARY - JUNE 19: Fans of Hungary celebrate their first goal during the UEFA Euro 2020 Championship Group F match between Hungary and France at Puskas Arena on June 19, 2021 in Budapest, Hungary. (Photo by Alex Pantling/Getty Images) Kerumunan supporter di Budapest dalam turnamen Euro 2020 (Foto: Getty Images/Alex Pantling)
Jakarta -

Turnamen Euro 2020 mendapat sorotan dari Organisasi Kesehatan Dunia WHO. Kerumunan fans di stadion maupun di bar saat menonton pertandingan terjadi saat pandemi belum sepenuhnya reda di Eropa.

Menteri dalam negeri Jerman sebelumnya menyebut UEFA tidak bertanggung jawab dengan mengizinkan kerumunan besar dalam turnamen tersebut. Kini sorotan juga datang dari WHO, yang menyebut Euro 2020 telah memicu peningkatan kasus baru hingga 10 persen.

Penurunan kasus baru COVID-19 di Eropa selama 10 pekan belakangan ini disebut telah berakhir. Gelombang baru COVID-19 tidak terhindarkan gara-gara turnamen sepakbola.

"Kita perlu melihat jauh di luar stadion," kata staf kedaruratan senior WHO Catherine Smallwood, dikutip dari Reuters, Jumat (2/7/2021).

"Kita harus melihat bagaimana orang menuju ke sana, apakah bergerombol ramai-ramai naik bus? Dan saat mereka meninggalkan stadion, apakah mereka berkerumun di bar dan pub untuk nonton pertandingan?" lanjutnya.

LONDON, ENGLAND - JUNE 13: England fans with a sign saying Football is coming home 2021 prior to the UEFA Euro 2020 Championship Group D match between England and Croatia at Wembley Stadium on June 13, 2021 in London, England. (Photo by Andy Rain - Pool/Getty Images)Football is coming home, atau COVID-19 is coming home? (Photo by Andy Rain - Pool/Getty Images) Foto: Getty Images/Andy Rain - Pool

Smallwood menilai, turnamen tersebut memicu penularan COVID-19. Terlebih, tiap negara punya aturan yang berbeda-beda dalam membatasi penonton. Ada yang membatasi hanya 25-45 persen kapasitas venue, tapi ada juga yang mengizinkan hingga 60 ribu penonton seperti di Budapest.

"Keputusan final terkait jumlah suporter yang menonton pertandingan dan persyaratan masuk ke negara atau stadion manapin menjadi tanggun jawab otoritas lokal yang kompeten, dan UEFA mengikuti dengan ketat," kata UEFA dalam sebuah pernyataan.

Menteri dalam negeri Jerman Horst Seehofer menuding UEFA tidak bertanggung jawab. Ia juga mengkhawatirkan gelaran semifinal dan final yang akan digelar di London bakal menularkan COVID-19.

"Saya tidak bisa menjelaskan kenapa UEFA jadi tidak masuk akal. Saya mengira ini karena komersialisme," tudingnya.



Simak Video "Piala Eropa Dijadikan Contoh Herd Immunity Berkat Vaksinasi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)