Selasa, 06 Jul 2021 12:30 WIB

Saturasi 93 Persen ke Bawah Wajib Cari Tabung Oksigen? Begini Saran Dokter

Vidya Pinandhita - detikHealth
Kasus COVID-19 di Indonesia tengah mengalami lonjakan. Pada periode ini, kebutuhan oksigen medis ikut meningkat. Foto: Andhika Prasetia
Jakarta -

Di tengah lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia, kebutuhan masyarakat akan tabung oksigen meningkat. Sebenarnya, kapan sih seseorang butuh suplementasi dengan tabung oksigen?

Dokter paru menjelaskan, suplementasi oksigen memang diperlukan pada kondisi tertentu pasien COVID-19. Di antaranya, ada keluhan sesak napas. Selain itu, kandungan oksigen dalam darah yang terhitung di bawah batas minimum berdasarkan pengukuran analisis gas darah oleh dokter.

"Secara objektif parameter juga dapat dinilai dari kadar oksigen dalam darah (PaO2) atau dari saturasi oksigen (SaO2). Kadang-kadang pasien nggak ada keluhan sesak napas, kita bisa berikan oksigen jika hasil analisis kandungan oksigen dari dalam darah atau pembuluh darah itu di bawah nilai normal. Kalau kita menilai oksigen, kita melakukan pemeriksaan analisis gas darah," terang Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), FISR, FAPSR pada detikcom, Selasa (6/7/2021).

"Dari situ kita bisa menentukan seseorang butuh oksigen apabila kadar oksigen dalam darah arterinya (PaO2) kurang dari 80 persen (hipoksemia). Ada yang ringan, ada yang sedang. Tapi kurang dari 80 persen PaO2 harus diberikan terapi oksigen," lanjutnya.

Hitung saturasi oksigen pakai oximeter, cukupkah?

Kini, masyarakat banyak diingatkan untuk siap sedia oximeter di rumah, yakni alat pengukur saturasi oksigen.

dr Agus menjelaskan, suplementasi oksigen perlu diberikan jika tingkat saturasi sudah kurang dari atau sama dengan 93 persen. Namun ia menegaskan, penggunaan tabung oksigen pada pasien COVID-19 dengan saturasi minimal 93 persen ini hanyalah langkah pertolongan pertama.

Selanjutnya, pasien harus dibawa ke rumah sakit karena penanganan tak cukup dengan tabung oksigen. Diperlukan juga obat dalam bentuk injeksi infus untuk mengatasi kerusakan pada paru akibat gangguan pertukaran oksigen.

"Cara pemberian tabung oksigen hanya di rumah jikalau mungkin sebagai pertolongan pertama bisa dilakukan di rumah, tapi segera ke rumah sakit. Pada kasus COVID ini, (kalau) pasien sudah membutuhkan oksigen berarti dia sudah derajatnya berat. Pasien ini tidak bisa dirawat di rumah," tegasnya.

"Saya tidak menyarankan kalau seperti ini di rumah, harus di rumah sakit karena risiko mortalitas (atau) kematiannya tinggi," sambungnya.



Simak Video "Menkes Prediksi Ada Lonjakan Kasus COVID-19 dalam Beberapa Hari"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)