Selasa, 06 Jul 2021 15:42 WIB

Cara Kerja Oxygen Concentrator, Alternatif di Tengah Kelangkaan Tabung

Vidya Pinandhita - detikHealth
Medical Device Individual portable oxygen cylinder to put gas for patients with respiratory disorders, Oxygen concentrator bar gauge measurement liter made pure water min max level, white background Ilustrasi oxtgen concentrator (Foto: Getty Images/iStockphoto/JadeThaiCatwalk)
Jakarta -

Lonjakan COVID-19 memicu kelangkaan tabung oksigen. Beragam alternatif bermunculan, salah satunya oxygen concentrator yang mulai banyak ditawarkan di lapak-lapak online.

Dari bentuknya, oxygen concentrator mirip mesin generator oksigen. Sedangkan dari harganya, memang lebih mahal dibanding tabung oksigen pada umumnya.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), FISR, FAPSR menjelaskan, oxygen concentrator merupakan salah satu alat penopang suplementasi oksigen.

Mengingat kadar oksigen pada udara umumnya hanya berkisar 21 persen, alat ini bekerja meningkatkan kadar oksigen hingga 90-95 persen.

"Sumber oksigen dalam suplementasi, sumber oksigen bisa berasal dari: pertama, oksigen murni dalam bentuk gas yang tersedia dalam tabung atau dalam oksigen sentral yang ada di rumah sakit, bentuknya sudah gas ready to use," terang dr Agus pada detikcom.

"Kedua, adalah oksigen yang berasal dari produk yang dihasilkan oleh mekanisme oxygen concentrator. Oxygen concentrator adalah alat yang bisa mengubah kondisi kandungan oksigen dari udara bebas yang hanya 21 persen menjadi konsentrasi lebih tinggi bisa sampai 90-95 persen," lanjutnya.

Oxygen concentrator bekerja mengubah oksigen bebas pada udara menjadi oksigen lebih murni. Dari alat tersebut, oksigen bisa disalurkan pada pengguna secara langsung menggunakan selang untuk dihirup tanpa menggunakan tabung.

Ia menambahkan, sebelum ada banyak pasien COVID-19 alat ini sudah biasa digunakan oleh pasien penyakit paru untuk mengatasi kondisi kekurangan oksigen yang ringan. Saluran oksigen dari alat ini tidak setinggi pada alat suplementasi oksigen lain yang lebih canggih.

Ia juga menekankan, pasien COVID-19 yang mengalami sesak napas harus segera mendapatkan penanganan rumah sakit. Pasalnya, rendahnya kadar oksigen tak hanya membutuhkan suplementasi oksigen seperti dari oxygen concentrator, melainkan pula obat injeksi dan infus.

"Begitu kena COVID sudah sesak napas dan butuh oksigen, harus ke rumah sakit. Itu harus ditekankan, wajib supaya masyarakat tidak keliru aman-aman saja di rumah. Beberapa kasus meninggal di rumah karena nggak bisa tertolong, dianggap cukup pakai oksigen. Padahal penanganannya bukan cuma oksigen," pungkas dr Agus.



Simak Video "Oxygen Concentrator, Strategi Menkes soal Kebutuhan Oksigen"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)