Kamis, 08 Jul 2021 22:44 WIB

Happy Hypoxia Ditemukan di Kalbar, Gejala COVID-19 Macam Apakah Itu?

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Woman hand introduced in a oximeter to check oxygen levels and pulse because Covid-19 pandemic Foto: Getty Images/iStockphoto/Juanmonino
Jakarta -

Angka kematian akibat COVID-19 dilaporkan naik di Bengkayang, Kalimantan Barat. Di antaranya, ada yang disebabkan oleh happy hypoxia. Kondisi seperti apakah itu?

Dikutip dari Antara, Kamis (8/7/2021), Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, I Made Putra negara, memberikan penjelasan happy hypoxia.

"Kondisi tersebut membuat seseorang mengalami masalah dalam pernapasan berupa sesak napas atau dispnea. Kasus ini sudah ada di Bengkayang," jelasnya.

Digambarkan, happy hypoxia bisa mengakibatkan kematian mendadak.

"Kasusnya orangnya bisa jalan-jalan, bisa ketawa-ketawa, tiba-tiba sesak napas dan meninggal. Itu yang dikenal dengan happy hypoxia. Sudah ada kasusnya di Bengkayang. Kami juga berduka ada salah satu kepala puskesmas di Bengkayang meninggal, yang juga sesaknya mendadak," katanya.

Bisa Mendeteksi Happy Hypoxia COVID-19, Begini Cara Kerja Pulse OximeterBisa Mendeteksi Happy Hypoxia COVID-19, Begini Cara Kerja Pulse Oximeter Foto: infografis detikHealth

Jadi sebenarnya happy hypoxia itu apa?

Istilah happy hypoxia atau silent hypoxemia mulai marak digunakan sejak pandemi COVID-19 melanda. Hypoxia sendiri adalah kondisi kadar oksigen yang drop di jaringan tubuh, sedangkan hypoxemia penurunan tekanan oksigen dalam darah.

Kedua kondisi, hypoxia dan hypoxemia, umumnya menyebabkan sesak napas atau dyspnea. Bila tidak tertangani, kondisi tersebut bisa memicu kerusakan jaringan yang berakibat fatal.

Dalam beberapa laporan, pasien COVID-19 tidak mengalami masalah pernapasan maupun keluhan sesak napas meski kadar oksigen dalam darah dan jaringan tubuhnya turun. Pada pemeriksaan oximeter, diindikasikan dengan saturasi oksigen yang sangat rendah.

Kondisi hypoxia maupun hypoxemia yang tidak disertai keluhan sesak napas inilah yang kemudian populer dengan sebutan happy hypoxia atau silent hypoxemia.

Spesialis paru dari RS Persahabatan, dr Erlina Burhan MSc, SpP, menjelaskan bahwa happy hypoxia terjadi karena ada kerusakan pada saraf yang mengantarkan sensor sesak ke otak. Normalnya, tubuh yang kekurangan oksigen akan mengirim sinyal ke otak.

"Tapi pada beberapa pasien COVID-19, kondisi ini (sesak) tidak terjadi karena sudah ada kerusakan pengiriman sinyal ke otak," kata dr Erlina dalam siaran Youtube BNPB, Rabu (16/9/2020).



Simak Video "Seberapa Penting Oximeter untuk Pasien Isoman COVID-19?"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)