Jumat, 09 Jul 2021 08:32 WIB

Vaksin Sinovac Diuji Lawan Virus Corona Varian Gamma, Apa Hasilnya?

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Anggota kepolisian berjaga di dekat Envirotainer berisi bahan baku vaksin COVID-19 Sinovac saat tiba di Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Selasa (25/5/2021). Sedikitnya 8 juta dosis dalam bentuk bulk vaksin Sinovac pada tahap ke-13 tersebut tiba di Bio Farma untuk diproses dan didistribusikan guna mempercepat rencana vaksinasi sedikitnya 70 persen penduduk atau sekitar 181,5 juta penduduk Indonesia untuk mempercepat kekebalan komunal terhadap COVID-19. ANTARA FOTO/Novrian Arbi/rwa. Foto: ANTARA FOTO/NOVRIAN ARBI
Jakarta -

Peneliti di Brasil melakukan pengujian vaksin Corona Sinovac terhadap varian Gamma. Mereka menemukan vaksin Sinovac kurang efektif melawan varian Corona Gamma.

Dikutip dari Channel News Asia, peneliti menyebut antibodi yang dihasilkan oleh vaksin Sinovac bekerja kurang baik terhadap varian Gamma daripada varian lainnya. Virus Corona varian Gamma atau P1 termasuk variant of concern yang pertama kali ditemukan di Brasil.

"Virus (Gamma) berpotensi beredar pada individu yang divaksinasi, bahkan di daerah dengan cakupan vaksinasi tinggi," kata peneliti dari Universitas Campinas Brasil.

Dalam studi yang dilakukan dalam kelompok kecil, peneliti melihat antibodi dalam plasma darah dari 53 orang yang divaksinasi dan 21 orang yang sebelumnya telah terinfeksi virus.

Dalam kelompok yang telah mendapatkan vaksin, 18 orang menerima satu dosis vaksin CoronaVac, 20 orang sudah mendapat dua dosis. Selebinya, 15 orang sudah mendapat vaksinasi pada Agustus 2020 pada saat uji klinis vaksin Sinovac di Brasil.

Mereka menemukan varian Gamma bisa lolos dari antibodi hampir semua peserta yang hanya menerima satu dosis.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal The Lancet Microbe ini juga menemukan bahwa antibodi yang dihasilkan oleh infeksi sebelumnya harus sembilan kali lebih tinggi untuk mencegah infeksi oleh Gamma daripada varian lainnya.

Kabar baiknya, peneliti mengatakan uji klinis menunjukkan bahwa vaksin Sinovac masih efektif dalam mencegah penyakit parah dan kematian. Vaksin CoronaVac sendiri telah disetujui WHO Juni 2021 lalu, di mana lembaga itu mengatakan kemanjuran vaksin 51 persen terhadap penyakit simtomatik dan 100 persen terhadap rawat inap.

Para penulis mengatakan terdapat batasan dalam uji coba ini termasuk bahwa peserta berusia di bawah 60 tahun dan berisiko rendah, menyerukan penelitian lebih lanjut untuk menguji kemanjuran di antara orang dewasa yang lebih tua dan di bawah 18 tahun, serta terhadap varian baru.



Simak Video "Ahli Virologi Berharap Covid-19 Semakin Bermutasi, Ini Alasannya..."
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)