Jumat, 09 Jul 2021 15:41 WIB

Terungkap! Hasil Studi Vaksin Corona Sinovac di Dunia Nyata

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Bangkok, Thailand - Mar 2020 : Crowd of unrecognizable business people wearing surgical mask for prevent coronavirus Outbreak in rush hour working day on March 18, 2020 at Bangkok transportation Foto ilustrasi. (Foto: Getty Images/Tzido)
Jakarta -

Chili melakukan studi teranyar vaksinasi COVID-19 Sinovac di dunia nyata. Kabar baiknya, vaksin Sinovac terbukti 87,5 persen mencegah kasus COVID-19 rawat inap, 90,3 persen mencegah pasien masuk ruang perawatan intensif (ICU).

Tak hanya itu, dosis lengkap vaksin COVID-19 Sinovac juga mampu mencegah kasus COVID-19 bergejala sebesar 65,9 persen. Begitu juga dengan angka kematian Corona yang mampu dicegah hingga 86,3 persen.

"Hasil keseluruhan menunjukkan bahwa vaksin CoronaVac (Sinovac) memiliki efektivitas tinggi terhadap penyakit parah, rawat inap, dan kematian, menggarisbawahi potensinya untuk menyelamatkan nyawa dan secara substansial mengurangi tuntutan pada sistem perawatan kesehatan," kata para analis, dikutip dari Global Times.

Studi vaksinasi Corona Sinovac di dunia nyata tersebut melibatkan 10,2 juta orang. Hasil riset vaksin COVID-19 Sinovac inactivated vaccine ini terbukti memberikan perlindungan yang tinggi pada populasi umum, dan juga usia di atas 60 tahun.

Meskipun kasus COVID-19 meningkat di Chili, seorang ahli di Shanghai yang mengikuti penelitian vaksin, Zhuang Shilihe, menilai hal tersebut bukan menandakan vaksin Corona Sinovac tak efektif. Melainkan, kebijakan negara yang tidak memilih lockdown nasional.

Bagaimana efikasi vaksin Sinovac melawan varian Delta?

Kemunculan varian Delta memicu kekhawatiran vaksin COVID-19 tak lagi efektif. Perusahaan Sinovac masih menganalisis hasil efikasi vaksin Corona besutannya melawan COVID-19 varian Delta.

"Saat varian Delta menyapu dunia, para peneliti masih dalam studi laboratorium untuk melacak seberapa baik CoronaVac dapat melindunginya, dan hasil yang relevan dari vaksin CoronaVac akan diterbitkan dalam makalah akademis dalam beberapa hari mendatang," ungkap juru bicara Sinovac Liu Peicheng kepada Global Times, Kamis.

Liu membantah laporan Reuters bahwa kemanjuran vaksin COVID-19 Sinovac, CoronaVac, dalam melawan strain Corona Delta turun drastis tiga kali lipat, mengklaim laporan tersebut tidak akurat dan tak lengkap.

Ahli epidemiologi ternama di China, Zhong Nanshan mengatakan pada 28 Juni, vaksin Corona China masih efektif melawan varian Delta COVID-19 yang pertama kali terdeteksi di India, mendesak lebih banyak orang untuk divaksinasi.

"Semua vaksin COVID-19 yang ada dikembangkan berdasarkan varian yang beredar pada tahun 2020, sehingga khasiatnya terhadap varian Delta kira-kira sama. Jika kemanjuran Sinovac menurun, begitu juga dengan orang lain," kata jubir Sinovac Feng.



Simak Video "Hasil Uji Coba Akhir Vaksin CureVac Kurang Ampuh Lawan COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)