Senin, 12 Jul 2021 12:33 WIB

Interaksi Obat Picu Kematian Pasien COVID-19? Ini Kata Profesor Farmakologi

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
ilustrasi obat Foto: iStock
Jakarta -

Media sosial kini tengah ramai akibat pernyataan seorang dokter kontroversial, dr Lois Owien, di sebuah acara televisi. Selain menyangkal keberadaan COVID-19, ia menyebut bahwa pasien COVID-19 yang meninggal itu disebabkan karena interaksi obat.

"Interaksi obat-obat. Kalau buka data di rumah sakit, itu pemberian obatnya lebih dari enam macam," kata dr Lois.

Pernyataan ini, sekalipun sama sekali tidak jelas ujung-pangkalnya, telah membuat masyarakat bertanya-tanya dan resah. Namun, apakah benar interaksi obat-obatan bisa menyebabkan kematian pada pasien COVID-19?

"Jika ada yang menyebutkan bahwa kematian pasien COVID-19 adalah semata-mata akibat interaksi obat, maka pernyataan itu tidak berdasar dan tidak bisa dipertanggungjawabkan," tegas pakar farmakologi dan farmasi klinis Profesor Zulies Ikawati, dikutip dari CNN Indonesia, Senin (12/7/2021).

Menurut Prof Zulies, pada dasarnya interaksi obat adalah pengaruh suatu obat terhadap efek obat lain yang digunakan secara bersamaan. Secara umum, interaksi obat bisa menimbulkan beberapa hal seperti meningkatkan atau mengurangi efek obat lain, dan memicu efek yang tidak diinginkan dari obat yang digunakan.

"Karena itu, sebenarnya interaksi ini tidak semuanya berkonotasi berbahaya. Ada yang menguntungkan, ada yang merugikan. Jadi, tidak bisa digeneralisir dan harus dikaji secara individual," lanjut Prof Zulies.

Pasien COVID-19 dengan komorbid butuh banyak obat

Dalam penjelasannya, Prof Zulies mengatakan pasien akan membutuhkan banyak obat terutama yang memiliki penyakit komorbid, misalnya pada penderita hipertensi. Pada kondisi hipertensi yang tidak terkontrol dengan obat tunggal, bisa ditambahkan kombinasi hingga 2-3 obat antihipertensi.

"Dalam kasus ini, memang pemilihan obat yang akan dikombinasikan harus tepat yaitu memiliki mekanisme yang berbeda. Sehingga, ibarat menangkap pencuri, dia bisa dihadang dari berbagai penjuru," jelasnya.

Dalam kasus seperti ini, obat-obat yang diberikan itu memang akan saling berinteraksi dan memberikan hasil yang menguntungkan. Sebab, obat-obatan tersebut bersinergi menurunkan tekanan darah pasien. Tapi, semakin banyak obat yang digunakan, risiko efek samping akan semakin meningkat.

Meski begitu, kombinasi beberapa macam obat tetap diperlukan, karena kondisi setiap pasien berbeda satu sama lain. Seperti yang diketahui, COVID-19 bisa menyebabkan peradangan pada paru, gangguan pembekuan darah, gangguan pencernaan, dan lain-lain.

"Karena itu, sangat mungkin diperlukan beberapa macam obat untuk mengatasi berbagai gangguan tersebut, di samping obat antivirus dan vitamin-vitamin," terang Prof Zulies.

Interaksi obat juga bisa menimbulkan efek yang merugikan. Untuk penjelasannya, klik ke halaman selanjutnya.

Simak video 'Postingan dr Lois, Diciduk Polisi Gegara Tak Percaya Corona':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2