Rabu, 14 Jul 2021 07:05 WIB

e-Life

Olahraga di Rumah, Ngimpi Punya Perut Sixpack

dtv - detikHealth
Jakarta -

Pandemi COVID-19 mengharuskan kita untuk mengurangi mobilitas dan mengurangi kerumunan. Bagi yang hobi olahraga di tempat ramai, mungkin sudah saatnya mencoba lebih aktif berolahraga di rumah saja.

Certified Fitness Coach Regina Stefani mengatakan manfaat olahraga harus memenuhi dua hal, yaitu melatih fungsi jantung (aerobik), dan melatih fungsi sendi dan otot (anaerobik).

"Mungkin familiar dengan jogging ya, kalau jogging kan suka ngos-ngosan tuh. Denyut jantungnya lebih naik, heart rate-nya tinggi, itu lebih mengasah kardiovaskular, fungsi jantung. Kalau misalnya suka latihan di rumah, ngelakuin gerakan gerakan kayak squat, push up, yang lebih spesifik ke otot besar tertentu, itu masuknya ke latihan beban atau anaerobik," jelasnya di acara e-Life detikcom.

Olahraga di rumah juga bisa disesuaikan dengan jadwal dan kesibukan masing-masing. Durasi olahraga yang direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO) adalah minimal dua setengah jam perminggu.

"Dua setengah jam perminggu, berarti kira-kira kalau misal digabungin latihan beban dan kardio, itu bisa dibagi menjadi dua sampai tiga kali seminggu. Itu aman banget sih," papar Regina.

Untuk mengetahui apakah olahraga sudah dilakukan dengan maksimal, Regina menyarankan untuk merasakan kondisi badan sendiri. Apabila level energi sudah rendah, diikuti dengan performa olahraga yang berkurang, maka olahraga sudah dirasa cukup.

"Aku nggak menyarankan untuk mencapai titik maksimal sampai nggak bisa ngapa-ngapain, karena nanti efeknya bisa ke mana-mana. Pernah klienku cerita dia sampai muntah atau pingsan, itu kan nggak perlu. Malah nggak sehat, jadinya malah hubungan kita sama olahraga malah lain arahnya," jelas Regina.

Regina juga menekankan bahwa sebelum berolahraga, penting untuk memantau kondisi tubuh sendiri. Apabila kondisi sedang tidak terlalu sehat, tidak perlu memaksakan diri untuk berolahraga semaksimal biasanya.
"Saranku salah satunya adalah dengarkan badannya," katanya.

Untuk menciptakan suasana olahraga yang menyenangkan, Regina menyarankan untuk benar-benar mengetahui jenis olahraga apa yang disukai. Jangan sampai olahraga malah terasa seperti menyiksa diri sendiri, karena justru akan membuat trauma dan akhirnya olahraga tidak bisa menjadi gaya hidup yang berkelanjutan.

"Kalau sukanya dance, yoga, pilates, lakuin dulu itu. Kalau bisa nih, buat jadwal. Ya ujung-ujungnya sebenarnya kita ingin sehat ya, kita ingin meningkatkan imun tubuh. Jadi dengan mengingat tujuannya kita itu apa, dan kalau itu sudah ditaruh di mindset, pasti nggak susah mencari mood olahraga," tutur Regina.

Mengenai alat untuk berolahraga, ternyata barang-barang di rumah bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan ini. Botol air mineral berukuran 1,5 L bisa menggantikan peran barbel 0,5 kg. Selain itu, latihan beban juga tidak harus selalu membutuhkan alat, bisa dengan menggunakan berat badan sendiri.

Tak hanya untuk alasan kesehatan, banyak orang berolahraga untuk bisa mendapat bentuk tubuh impiannya, salah satunya adalah untuk mewujudkan perut berbentuk sixpack. Menanggapi hal ini, Regina mengatakan bahwa wujud "sixpack" di tiap orang berbeda, tergantung kondisi genetiknya.

"Nggak semua orang bisa bentuknya seperti itu. Ada yang mungkin bentuknya empat, ada yang bahkan bentuknya garis, atau delapan," kata Regina.

Selain itu, perlu digarisbawahi bahwa untuk mendapatkan sixpack, tubuh harus berada di massa lemak yang rendah. Untuk mencapai ini, badan harus berada dalam kondisi kalori defisit, yaitu keadaan di mana kalori yang masuk lebih sedikit daripada kalori yang keluar.

"Intinya, untuk mendapatkan sixpack kamu harus punya massa lemak yang rendah, dan bukan berarti musuhan sama gula-gula, garam, dan lain-lainnya. Nggak, nggak ada yang perlu dimusuhin kok. Yang penting, tahu porsinya lah. Nggak ada yang perlu dimusuhin gitu," terang Regina.

Regina juga menyampaikan bahwa olahraga di rumah dan di gym atau fitness center akan memberikan hasil yang berbeda. Hal ini dikarenakan untuk melakukan gerakan-gerakan progresif atau variasi yang lebih sulit akan lebih terbatas jika dilakukan dengan alat seadanya di rumah.

Oleh karena itu, Regina menyarankan untuk berinvestasi pada alat-alat sederhana seperti dumbell untuk latihan beban. "Tapi, jangan karena progresnya nggak sama, malah 'Aduh mendingan nggak usah olahraga dong!' Balik lagi kita kan tujuannya untuk meningkatkan imun, melawan pandemi ya kan, mempertahankan kesehatan. Bukan untuk meningkatkan massa otot, untuk menurunkan berat badan," kata Regina.

Pada dasarnya, olahraga harus dimulai dengan motivasi untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Oleh karena itu, olahraga harus dibarengi dengan gaya hidup yang menyehatkan dan menyenangkan untuk diri sendiri.

Regina memaparkan tiga hal penting mengenai pola hidup yang bisa menunjang kesehatan, terutama di era pandemi ini. Pertama, makan dengan pola gizi seimbang (sumber karbohidrat, lauk pauk, sayur-mayur, buah-buahan). Kedua, perbaiki kualitas tidur, karena saat tidur tubuh melakukan perbaikan sel-sel yang rusak. Setelah berolahraga, perbaikan otot terjadi saat tidur. Ketiga, olahraga teratur untuk mengasah fungsi jantung, otot, dan sendi.

"Harus konsisten dan sabar. Kalau memang kamu mengharapkan hasil, sabar. Lakuin yang tiga tadi dulu aja. Utamakan sehat dulu," tutup Regina.

(gah/gah)