Rabu, 14 Jul 2021 11:05 WIB

Viral Pengakuan Payudara Membesar Usai Vaksin Pfizer, Begini Faktanya

Firdaus Anwar - detikHealth
A health care professional prepares a Pfizer-BioNTech COVID-19 vaccine at Sheba Tel Hashomer Hospital in Ramat Gan, Israel, Tuesday, Jan. 12, 2021. Israel has struck a deal with Pfizer, promising to share vast troves of medical data with the drugmaker in exchange for the continued flow of its COVID-19 vaccine. Critics say the deal is raising major ethical concerns, including possible privacy violations and a deepening of the global divide between wealthy countries and poorer populations, including Palestinians in the occupied West Bank and Gaza, who face long waits to be inoculated. (AP Photo/Oded Balilty) Foto: AP/Oded Balilty
Jakarta -

Beredar pengakuan seorang remaja yang payudaranya membesar setelah disuntik vaksin COVID-19 buatan Pfizer. Dalam sebuah video TikTok, remaja 17 tahun bernama Emma tersebut mengatakan payudaranya terasa lebih besar beberapa minggu usai vaksinasi.

Dikutip dari kantor berita Norwegia, NRK, Emma mengaku menerima ratusan komentar terkait hal yang sama di TikTok.

"Saat saya melihat ada beberapa yang memiliki pengalaman serupa di TikTok, saya mencari tahu di Internet. Saya menemukan banyak artikel dari Amerika Serikat," kata Emma.

Dokter dari pusat diagnostik payudara di Rumah Sakit Nordland, Heinrich Backmann, menjelaskan apa yang terjadi kemungkinan bukan pembesaran payudara sesungguhnya. Beberapa vaksin COVID-19 diketahui memang bisa menyebabkan pembengkakan sementara pada kelenjar getah bening di payudara.

Secara umum kelenjar getah bening akan membengkak karena peradangan untuk melawan infeksi. Namun, sekali lagi ini sifatnya tidak permanen dan akan kembali normal setelah beberapa minggu.

Oleh karena alasan ini juga beberapa ahli tidak menyarankan wanita menjalani tes mammogram segera setelah vaksinasi. Kelenjar getah bening yang bengkak dapat menyerupai benjolan mirip kanker payudara.

"Pembengkakan kelenjar getah bening pasca vaksin biasa terjadi dan tidak berbahaya. Namun bisa memicu positif palsu pada mammogram, meningkatkan kebutuhan untuk pengujian lebih lanjut yang tidak perlu," kata Dr Brett Parkinson, direktur medis Pusat Perawatan Payudara Pusat Medis Intermountain di Murray, Utah, Amerika Serikat.



Simak Video "Alasan WHO Akhirnya Luluh soal Vaksin Covid-19 Dosis Ketiga"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)