Rabu, 14 Jul 2021 20:05 WIB

Gibran Negatif Antigen tapi Positif PCR, Bedanya Apa Sih?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Jakarta -

Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka menjabarkan kronologi dirinya dinyatakan positif COVID-19. Dalam jumpa pers virtual ia mengisahkan, awalnya sempat mengikuti tes antigen dan hasil yang keluar negatif. Ia kemudian lanjut melakukan tes PCR dengan hasil positif.

"Saya kan rutin antigen, dan kebetulan kemarin antigen saya negatif. Tetapi, saya tidak percaya dengan hasil itu kemudian saya suruh teman dari RSBK (Bung Karno) untuk PCR dan hasilnya positif," terang Gibran dalam jumpa pers virtual, Rabu (14/7/2021).

Apa bedanya tes antigen dan PCR?

Dikutip dari laman resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sederhananya, perbedaan tes antigen dan polymerase chain reaction (PCR) ada pada materi yang diidentifikasi untuk membaca infeksi virus Corona.

Pada PCR, materi genetik virus Corona diidentifikasi melalui usap pada nasofaring (hidung) dan orofaring (mulut). Sedangkan pada tes antigen, yang diidentifikasi adalah kandungan protein pada cangkang virus.

"Yang pertama adalah jenis tes yang mengidentifikasi keberadaan materi genetik virus COVID-19, atau yang disebut tes NAAT (N-A-A-T). Itu adalah tes PCR di mana Anda (pasien) akan diperiksa melalui usap (swab) hidung dan mulut," terang asisten direktur jenderal WHO untuk resistensi antimikroba, dr Hanan Balkhy, dikutip dari laman resmi WHO, Rabu (14/7/2021).

"Pada jenis tes kedua (antigen), yang diidentifikasi adalah salah satu protein terluar dari cangkang virus. Itu disebut pengujian antigen. Jadi, mereka (tenaga kesehatan) mencoba mendeteksi protein luar virus," lanjutnya.

Yang mana lebih akurat?

dr Hanan menyebut, tes PCR memang lebih sensitif mendeteksi adanya virus Corona. Hal itulah yang menyebabkan proses pengujian PCR di laboratorium memakan waktu lebih lama, bisa dalam waktu beberapa hari.

"Sementara pada tes antigen yang sekarang banyak dijual atau tes diagnostik cepat antigen, mereka mencari antigen di permukaan luar virus. Pengujian ini telah berkembang sehingga dapat dilakukan di kasur, atau lapangan sekali pun sehingga tidak memerlukan pengujian laboratorium. Tidak seakurat PCR, namun tetap amat penting untuk mengatasi pandemi COVID-19," pungkasnya.

(vyp/up)