Rabu, 21 Jul 2021 09:45 WIB

Vaksinasi Tersendat, 83 Persen Kasus COVID-19 di AS Dipicu Varian Delta

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Jakarta -

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mengatakan kasus penularan COVID-19 di negaranya didominasi oleh virus Corona varian Delta atau B1617.2. Data ini didapat setelah mereka melakukan sample tracking kasus COVID-19 di AS.

Menurut Direktur Pusat CDC, Dr Rochelle Walensky, angka kasusnya mencapai 83 persen dari penularan virus Corona yang terjadi di AS saat ini.

"Ini adalah peningkatan dramatis, naik dari 50 persen dibanding minggu 3 Juli lalu, ucap Walensky dalam sidang komite senat, Selasa (20/7/2021), dikutip dari CNN.

Tingkat penularannya yang tinggi juga diakui oleh mantan penasihat senior Tim Respons COVID Joe Biden, Andy Slavitt. Ia mengatakan varian Delta lebih menular dibandingkan virus Corona jenis lainnya yang sudah ada.

"Kita harus memikirkan varian Delta sebagai versi 2020 COVID-19 pada steroid," kata Slavitt.

Meski demikian, Slavitt mengatakan varian Delta ini bisa ditangani dengan vaksin COVID-19. Namun, saat ini vaksinasi COVID-19 di AS tersendat dan baru setengah dari populasi yang sudah divaksin secara penuh.

Warga yang belum divaksin kemungkinan tidak tidak mau divaksin. Sebuah survei oleh Axios-Ipsos menyebut kurang dari seperempat di antaranya baru mau divaksin dalam kondisi tertentu.

Seberapa efektif vaksin COVID-19 terhadap varian Delta?

Berdasarkan data terbaru dari Israel, vaksin COVID-19 buatan Pfizer dapat efektif memberikan perlindungan terhadap varian Delta sebesar 64 persen. Kemudian vaksin ini 93 persen efektif dalam mencegah penyakit parah dan rawat inap.

Studi lain menunjukkan vaksin Moderna dan Johnson & Johnson juga efektif dalam melawan varian Delta.

(ryh/up)